Dan sabda Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Qashr al-Amal hadits nomor 49,
“Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa atas Anda ialah dua hal, yaitu panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Sesungguhnya panjang angan-angan itu akan melupakan akhirat dan mengikuti hawa nafsu itu akan menghalangi dari kebenaran.” (HR. Ibnu Abi ad-Dunya No. 49)
Ust. Sadam mengingatkan bahwa masih banyak lagi nash-nash syar’i dan atsar-atsar para ulama terkait renungan mengingat kematian. Semua penjelasan tersebut membawa satu pesan penting: agar kita senantiasa mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam menghadapi kematian. Agar kita tidak lalai darinya. Agar kita senantiasa mawas diri. Agar tumbuh rasa untuk memperbaiki diri dan bertobat dari segala kesalahan yang pernah dibuat.
Di antara pesan-pesan tersebut ialah, sabda Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Perbanyaklah oleh kalian mengingat pemutus segala kelezatan”, yaitu kematian”. karena tidaklah seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan membuatnya merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia menyempitkannya (sehingga tidak akan tertipu dengan dunia). (HR. At-Tirmidzi No. 2307. Hadits ini shahih menurut syaikh al-Albani)
Sungguh benar adanya ucapan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kematian adalah pemberhentian dari segala ketamakan dan kerakusan, meluluhlantakkan keangkuhan dan kesombongan, penghancur segala kelezatan, kenikmatan, impian dan harapan.
Sungguh tidak ada obat yang paling bermanfaat bagi hati yang kelam selain mengingat kematian, karena ia akan menghalangi seseorang dari kemaksiatan, melembutkan dan menyinari hati dari kegelapan, mengusir kesenangan terhadap dunia, membuat ringan musibah yang datang menimpa.
Sebagaimana nasehat Imam ad-Daqqaq rahimahullah yang dikutip oleh Imam Qurthubi,
مَنْ أَكْثَرَ ذِكَرَ المَوْتِ أُكْرِمَ بِثَلَاثَةٍ: تَعْجِيلِ التَّوْبَة، وَقَنَاعَةِ القَلْبِ، وَنَشَاط العِبَادَةِ، وَمَنْ نَسِيَ المَوْتَ عُوجِلَ بِثَلَاثَةٍ: تَسْوِيفِ التَّوْبَةِ، وَتَرْكِ الرِّضَا بِالْكَفَافِ، والتَّكَاسُلِ فِي العِبَادَةِ
“Barang siapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal: Bersegera tobat, puas hati dan semangat ibadah, dan barang siapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; mengundur tobat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah.” (At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah, Imam al-Qurthubi, 9)
Juga nasihat Imam An-Nawawi yang mengutip perkataan seorang ahli hikmah,
Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang bijak mereka meninggalkan dunia dan takut terhadap fitnah,
Mereka melihat dan memperhatikan dunia, tatkala mereka mengetahui bahwa dunia bukanlah tempat tinggal untuk hidup,
Maka mereka menjadikannya sebagai samudera sedang amal shalih sebagai bahteranya. (Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi, 18)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Cukuplah kematian menjadi penasehat terbaik bagi diri kita, agar kita senantiasa mengambil ibrah dan pelajaran dari orang-orang yang telah mendahului kita.
Berapa banyak orang yang kita cintai telah kita kebumikan? Berapa banyak keluarga yang kita sayangi telah kita kafani?














