فَكَمْ مِنْ فَتَى اَمْسَى وَاَصْبَحَ ضَاحِكًا … وَقَدْ نُسِجَتْ اَكْفَانُهُ وَهْوَ لَا يَدْرِي
Betapa banyak pemuda di sore dan siang hari ia tertawa … Sementara kain kafannya telah ditenun sedang ia tidak menyadarinya
وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ … وَقَدْ اُدْخِلَتْ اَجْسَادُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ
Betapa banyak bayi yang diharapkan memiliki umur yang panjang … Ternyata jasad-jasad mereka telah dimasukkan dalam gelapnya kubur
وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ دُوْنَ عِلَّةٍ … وَكَمْ مِنْ سَقِيْمٍ عَاشَ حِيْنًا مِنَ الدَّهْرِ
Betapa banyak orang-orang yang sehat, ia mati tanpa sebab … Betapa banyak orang-orang yang sakit dapat hidup hingga waktu yang panjang
وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا … وَقَدْ قُبِضَتْ اَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ
Betapa banyak pengantin yang telah dirias tuk pasangan hidupnya … Sementara arwah-arwah mereka telah ditetapkan kematiannya pada malam lailatul Qadar
اَلنَّفْسُ تَبْكِي عَلَى الدُّنْيَا … وَقَدْ عَلِمَتْ أَنَّ السَّلَامَةَ فِيْهَا تَرْكُ مَا فِيْهَا
Jiwa menangisi dunia … Sementara ia mengetahui bahwa untuk selamat darinya adalah meninggalkan apa yang ada di dalamnya
Melalui bait-bait syairnya, seakan-akan Imam Syafi’i berkata kepada kita bahwa mati adalah puncak dari perjalanan manusia di dunia ini. Kematian selayak episode terakhir dari episode kehidupan sebelumnya. Apabila ia telah menghampiri, tidak ada satu pun yang sanggup mengusirnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Maka dari itu, marilah kita senantiasa mawas diri dan tidak menjadi orang-orang yang panjang angan-angan. Karena panjang angan-angan inilah salah satu sebab yang menjadikan orang lalai dari mengingat kematian dan mengingat kehidupan akhirat.
Fenomena seperti ini telah Allah subhanahu wata’ala ingatkan melalui firman-Nya,
وَلَتَجِدَنَّهُمْ اَحْرَصَ النَّاسِ عَلٰى حَيٰوةٍ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا يَوَدُّ اَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَلْفَ سَنَةٍۚ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهٖ مِنَ الْعَذَابِ اَنْ يُّعَمَّرَۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌ بِمَا يَعْمَلُوْنَ
“Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 96)














