Sampai di rumah, Abu Thalhah berkata ke istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah!” Istrinya menjawab, “Kita tidak memiliki apa pun kecuali jatah makanan untuk anak-anak.”
Abu Thalhah berkata, “Siapkanlah makanannya, nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kita kalau mereka minta makan malam.” Kemudian, Ummu Sulaim pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya.
Saat makanan siap disajikan, Abu Thalhah bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu padahal sebaliknya, dia memadamkannya. Sambil bergelap-gelap, kedua suami-istri itu memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar.
Keesokan harinya, sahabat Abu Thalhah datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tadi malam Allah tertawa atau takjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayat,
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). (HR Bukhari, no. 3798).
Ma’asyirol muslimin rahimaniallahu wa iyyakum
2). Keluarga Sebagai Pewaris Iman
Hal berikutnya yang dapat kita lakukan demi menghindari kebinasaan adalah menanamkan nilai-nilai keimanan kepada anak dan istri kita. Keimanan yang ditanamkan dengan baik akan menghasilkan ketenangan dan ridha Allah di dalam rumah.
Ada banyak amal shalih yang bisa diajarkan mulai dari dalam rumah. Amal shalih yang diajarkan itu sebagaimana amal shalih yang diajarkan Luqmanul Hakim kepada keluarganya.
Di dalam Surat Luqman ayat 13 dapat kita lihat bagaimana seorang ayah mengajarkan kepada anaknya agar selalu menjaga iman, serta menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan.
Allah berfirman,
“(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)
Tidak berhenti sampai di situ, dalam momen interaksi Luqman kepada anaknya juga mengajarkan kita persoalan penting lainnya, seperti berbakti kepada kedua orang tua, bersyukur kepada Allah, perintah untuk melaksanakan shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, serta keshalihan sosial kepada sesama agar kita menjauhi sifat sombong.














