JAMBI, Beritategas.com – Ma’asyiral muslimīn rahimakumullāh, Alhamdulilah hari ini Jumat, 3 April 2026, bertepatan dengan 14 Syawal 1447 Hijriah kembali kami hadir kehadapan bapak/ibu dalam kajian Islam penuh makna dengan mengangkat tema “Merawat Cahaya Iman di Bulan Syawal”, yang disampaikan oleh ustad Sadam Husen sarjana syariah.
Pertama-tama dan utama marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa.
Ma’asyiral muslimīn rahimakumullāh
kita telah melewati bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan rahmat, ampunan, dan keberkahan. Kini kita berada di bulan Syawal, bulan yang menjadi ujian: apakah cahaya iman yang kita bangun di bulan Ramadhan masih tetap menyala, atau mulai redup sedikit demi sedikit ?
Ramadhan telah menyalakan cahaya dalam hati kita.
Cahaya iman, cahaya takwa, cahaya kedekatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Namun cahaya itu tidak akan tetap terang tanpa dijaga.
Allah Ta‘ālā berfirman: Surat At-Taubah ayat 119.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوا مَعَ الصَّادِقِيْنَ(التوبة : 119))
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.”
Ma’asyiral muslimīn rahimakumullāh di bulan Ramadhan kita terbiasa dengan ibadah: shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menahan diri dari dosa. Namun setelah Ramadhan berlalu, setan kembali dilepaskan, hawa nafsu kembali diuji, dan lingkungan kembali menggoda, disinilah letak pentingnya merawat iman. Iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang, Jika tidak dijaga, ia akan melemah.
Ma’asyiral muslimīn rahimakumullāh,
Di antara cara merawat cahaya iman di bulan Syawal adalah:
Pertama: Menjaga shalat lima waktu
Shalat adalah tiang agama. Jangan sampai setelah Ramadhan kita kembali lalai dalam shalat.
Kedua: Melanjutkan kebiasaan membaca Al-Qur’an.
Jangan biarkan Al-Qur’an hanya dibaca di bulan Ramadhan saja.
Ketiga: Memperbanyak puasa sunnah di bulan Syawal
Rasulullah Muhammad Shollallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ(رواه مسلم)
Artinya:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.”
Keempat: Menjaga hati dari dosa.
Seperti iri, dengki, dan sombong. Karena dosa-dosa hati dapat memadamkan cahaya iman.
Ma’asyiral muslimīn rahimakumullāh, ketahuilah, tanda diterimanya amal Ramadhan adalah ketika seseorang tetap istiqamah setelahnya.
Para ulama mengatakan : “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”
Jika setelah Ramadhan kita masih semangat beribadah, maka itu pertanda kebaikan yang Allah berikan kepada kita. Namun jika setelah Ramadhan kita kembali lalai, maka kita harus segera memperbaiki diri.
Ma’asyiral muslimīn rahimakumullāh, Jangan sampai kita menjadi hamba yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan, tetapi lalai di bulan-bulan lainnya.
Karena Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama di bulan Syawal dan seterusnya. Maka jagalah cahaya iman itu. Rawatlah dengan amal shalih, dengan dzikir, dan dengan keikhlasan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah..
Pewarta: A. Erolflin
Editor : Firman













