JAMBI, Beritategas.com – Banyak orang berusaha menjauhi dosa-dosa besar, namun tanpa disadari sering menganggap remeh dosa-dosa kecil. Padahal, dosa yang dianggap sepele jika terus dilakukan tanpa penyesalan dapat menumpuk dan mengotori hati.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) mengingatkan bahwa dosa-dosa kecil yang terus dikumpulkan ibarat ranting-ranting kecil yang akhirnya menjadi api besar.
Melalui kajian Islam bertema “Jangan Meremehkan Dosa Kecil”, bersama Ust. Sadam Husen, S.Sy., pada Jumat (05/06/2026) bertepatan dengan 18 Dzulhijjah 1447 akan mengupas pentingnya menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan, sekecil apa pun.
Kajian ini mengajak umat Islam untuk lebih berhati-hati dalam perkataan, perbuatan, dan sikap sehari-hari agar senantiasa berada dalam lindungan dan ampunan Allah subhanahu wa Ta’ala (SWT).
Dikesempatan yang berbahagia ini ust. Sadam mengajak kita mari bersama memperkuat keimanan, memperbanyak istighfar, dan meningkatkan ketakwaan dengan menjauhi segala bentuk dosa.
Semoga kajian ini menjadi sarana muhasabah diri dan mengantarkan kita menuju kehidupan yang lebih baik serta memperoleh ridha Allah SWT.
Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab kita semua sedang berjalan menuju satu tujuan yang sama, tujuan yang tidak pernah gagal menemui siapa pun, yaitu kematian.
Setiap pagi yang datang bukanlah penambahan umur, tetapi pengurangan jatah kehidupan, setiap rambut yang memutih adalah surat yang dikirim Allah bahwa perjalanan semakin dekat kepada penghujung, dan setiap kuburan yang kita lewati sedang berbisik:
“Aku pernah dihuni orang-orang yang merasa masih lama hidupnya seperti kalian.”
Maka berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”(QS. Al-Baqarah: 197).
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, marilah kita berbicara tentang sesuatu yang sering dianggap kecil, tetapi ternyata mampu menghancurkan kehidupan manusia, sesuatu yang dianggap remeh, namun dapat memberatkan timbangan amal pada hari kiamat, yaitu dosa-dosa kecil yang diremehkan. Ada sebuah kisah hikmah yang masyhur.
Suatu hari seorang pedagang menjatuhkan setetes madu di tengah pasar. Hanya setetes,…. Kecil sekali,… Nyaris tak terlihat. Orang-orang menganggapnya tidak penting, lalu datang seekor lalat hinggap pada madu itu, datang seekor cicak memburu lalat, datang seekor kucing menerkam cicak, datang seekor anjing menyerang kucing.
Pemilik kucing marah, pemilik anjing membalas, keluarga mereka ikut campur, tetangga ikut terbakar emosi, pertengkaran berubah menjadi perkelahian. Perkelahian berubah menjadi kerusuhan, darah pun tertumpah, korban berjatuhan, padahal semuanya berawal dari apa? Bukan dari gunung yang runtuh, bukan dari banjir besar, bukan dari gempa bumi, tetapi dari setetes madu yang dianggap sepele.
Demikianlah syaitan bekerja, ia tidak selalu mengajak manusia kepada dosa besar, ia memulai dari sesuatu yang kecil, satu pandangan haram, satu kebohongan kecil, satu ghibah, satu amanah yang diabaikan, satu rupiah yang bukan haknya, dan satu maksiat yang dianggap biasa. Kemudian dibiarkan, kemudian diulang, kemudian menjadi kebiasaan, kemudian menjadi karakter, dan kemudian menjadi bencana.
Karena itu Rasulullah saw bersabda:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ
“Jauhilah dosa-dosa kecil yang dianggap remeh.” (HR. Ahmad)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus tidak lagi menjadi kecil, sebagaimana tetesan air yang terus jatuh mampu melubangi batu, sebagaimana api besar berawal dari percikan kecil, dan sebagaimana kapal besar tenggelam karena lubang yang awalnya tidak dianggap.
Maka jangan pernah berkata:
“Ini cuma sekali.”… “Ini cuma sedikit.”… “Ini cuma bercanda.”… “Ini cuma melihat sebentar.”. Karena syaitan selalu memulai dengan kata “cuma”.
Allah Ta’ala berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Artinya: “Barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Para ulama salaf berkata:
لَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْمَعْصِيَةِ وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى عَظَمَةِ مَنْ عَصَيْتَ
“Jangan melihat kecilnya maksiat, tetapi lihatlah betapa agung Dzat yang engkau durhakai.”
Mungkin manusia tidak melihat, mungkin tetangga tidak mengetahui, dan mungkin keluarga tidak menyadari. Tetapi Allah melihat… Allah mencatat… Dan Allah tidak pernah lalai.
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
Artinya: “Janganlah kamu mengira Allah lengah terhadap apa yang dilakukan orang-orang zalim.” (QS. Ibrahim: 42).
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Sebelum kita mencari kesalahan orang lain, ust Sadam mengajak marilah kita melihat ke dalam hati kita masing-masing.
Berapa banyak dosa yang telah kita kumpulkan, berapa banyak amanah yang belum kita tunaikan, berapa banyak lisan yang menyakiti, berapa banyak pandangan yang belum dijaga, dan berapa banyak waktu yang terbuang tanpa mengingat Allah?
Hari ini Allah masih menutupi aib kita, hari ini Allah masih memberi kesempatan untuk bertaubat, dan hari ini Allah masih membuka pintu ampunan-Nya. Maka jangan menunggu sampai pintu itu tertutup, jangan menunggu sampai ruh berada di tenggorokan, jangan menunggu sampai tubuh terbujur kaku dan keluarga hanya mampu mengantarkan kita ke liang lahat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Jangan pernah meremehkan dosa, karena gunung yang tinggi tersusun dari butiran-butiran kecil, lautan yang luas tersusun dari tetes-tetes air. Demikian pula dosa-dosa besar sering kali berawal dari kesalahan-kesalahan kecil yang dianggap biasa.
Hari ini kita masih bisa duduk di atas sajadah, bisa mengucapkan istighfar, dan masih bisa meneteskan air mata taubat. Tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah Jumat depan atau bulan depan kita masih ada, boleh jadi hari ini adalah Jumat terakhir bagi sebagian di antara kita, boleh jadi tahun depan nama kita sudah tidak lagi dipanggil di dunia.
Yang dipanggil hanyalah doa untuk kita, dan yang tersisa hanyalah amal yang pernah kita kerjakan.
Karena itu para ulama salaf sering menangis bukan karena sedikitnya harta, tetapi mereka menangis karena banyaknya dosa, mereka takut kepada dosa yang dianggap kecil oleh manusia tetapi besar di sisi Allah.
Sebagian mereka berkata: “Jangan melihat kecilnya kesalahan, tetapi lihatlah kepada siapa engkau berbuat kesalahan.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Betapa banyak penghuni kubur yang ingin kembali ke dunia, bukan untuk membangun rumah, bukan untuk mengumpulkan harta, bukan untuk mencari jabatan, tetapi hanya untuk mengucapkan:
“ISTIGHFAR”…”Aku memohon ampun kepada Allah.” Hanya untuk menambah satu rakaat shalat, hanya untuk bersedekah satu kali lagi, dan hanya untuk memperbaiki satu kesalahan yang dahulu dianggap sepele, namun kesempatan itu telah berakhir.
Sedangkan kita hari ini masih diberi kesempatan, maka jangan sia-siakan, jangan menunda taubat, karena kematian tidak pernah menunggu kesiapan manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Semua anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi).
Jika hari ini kita memiliki dosa, maka pintu taubat masih terbuka, jika hari ini hati kita kotor, maka Allah masih membuka jalan untuk membersihkannya, dan jika hari ini kita jauh dari Allah, maka Allah masih memanggil kita untuk kembali.
Bukankah Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).
Maka dengan tekad baru, tekad untuk menjaga shalat, tekad untuk menjaga lisan, tekad untuk menjaga amanah, dan tekad untuk menjauhi dosa meskipun tampak kecil.
Karena kita tidak tahu dosa mana yang menyebabkan murka Allah, sebagaimana kita tidak tahu amal mana yang menyebabkan ridha Allah.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dosa kedua orang tua kita, dosa para guru-guru kita, dan dosa kaum muslimin dan muslimat yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang peka terhadap dosa, meskipun kecil. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang segera bertaubat ketika terjatuh dalam kesalahan.
Semoga Allah menjaga hati kita dari maksiat yang tampak maupun yang tersembunyi. Aaaaamiin Allahumma Aamiin.
Menurut ust Sadam Husen, dosa kecil bukanlah sesuatu yang boleh dianggap ringan. Meskipun tampak sepele, jika dilakukan terus-menerus tanpa rasa bersalah dan tanpa taubat, dosa-dosa kecil dapat menumpuk, mengeraskan hati, serta menjauhkan seseorang dari rahmat Allah SWT.
Seorang mukmin hendaknya senantiasa waspada terhadap setiap perbuatan yang dapat mengundang murka Allah, baik yang besar maupun yang kecil.
Karena itu, marilah kita memperbanyak istighfar, menjaga lisan, pandangan, dan perilaku sehari-hari, serta segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.
Dengan demikian, hati akan tetap bersih, iman semakin kuat, dan kehidupan akan dipenuhi keberkahan serta ridha Allah SWT.
Semoga Allah menjaga kita dari segala bentuk dosa dan menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang senantiasa bertaubat. Aamiin.
Pewarta: A. Erolflin
Editor: Firman














