Kedua, Menghidupkan Sunnah Nabi Ibrahim Alaihissalam
Menyembelih hewan kurban adalah bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala, karena itu adalah sunnah bapak kita yaitu Nabi Ibrahim. Sebagaimana Rasulullah bersabda:
سُنَة أَبِيْكُمْ إِبْرَاهِيْم
“Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim.” (HR. Ahmad)
Ubaidullah Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa kurban tersebut adalah sunnah atau syariat terdahulu yang ditetapkan dan diperintahkan Allah untuk mengikuti syariat tersebut. (Mar’âtul Mafâtih, Ubaidullah Al-Mubarakfuri, 5/110)
Kemudian menurut ust. Sadam, ketahuilah, bahwa di antara hikmah dari ibadah kurban adalah seorang muslim dapat meresapi dan mentadaburi kisah sang kekasih Allah (khalilullah) yang mengajarkan hakikat pengorbanan di jalan Allah.
Maka Allah Ta’ala menetapkan dan menghendaki untuk mengabadikan pengorbanan agung dan besar ini sampai hari kiamat. Sehingga kaum muslimin diperintahkan untuk berkurban, sebagaimana Nabi Ibrahim berkurban.
Ketiga, berkurban adalah berbagi kebahagiaan bersama kaum muslimin
Dalam berkurban terdapat nilai kasih sayang yang dibagikan kepada orang lain, memuliakan tetangga, bersedekah kepada fakir, menyambung silaturahmi, memberi makan orang miskin, dan menghadiahkan daging kurban kepada kaum muslimin, maka ini semua adalah bentuk berbagi kebahagiaan pada ibadah kurban.
Allah Ta’ala berfirman:
فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون
“Maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Hajj: 36).
Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya At-Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa kebaikan-kebaikan berupa menyembelih kurban, memakan dagingnya, serta memberi makan fakir dengan daging tersebut adalah atas izin Allah yang telah menundukkan hewan untuk para hamba Nya, sehingga hewan itu dapat ditunggangi, diperah susunya, dan disembelih dagingnya, agar para hamba bersyukur kepada Allah, mendekatkan diri dengan ikhlas kepada-Nya. (Tafsir Al-Munir, Az-Zuhaili, 17/218)












