Raden Syanwani Midkhol dan Raden Fathul Mujib Midkhol didampingi Gus Mustain Nasoha Jalani Riyadhoh Spiritual Menapaktilasi Jejak Para Ulama Jawa

SURAKARTA, Beritategas.com – Memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, yang dikenal sebagai salah satu bulan mulia dalam kalender Islam, dua ulama asal Kabupaten Grobogan, Kyai Syanwani Midkhol dan Kyai Fathul Mujib Midkhol, bersama Dr. KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha melaksanakan rangkaian riyadhoh dan ziarah spiritual ke sejumlah makam ulama dan tokoh penyebar Islam di wilayah Solo Raya.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menyambut Tahun Baru Hijriah dengan memperbanyak dzikir, muhasabah, doa, serta memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT. Selain itu, riyadhoh tersebut juga diniatkan sebagai bentuk ikhtiar batin dan doa agar para santri serta generasi muda Islam diberikan keberkahan ilmu, keteguhan iman, kelapangan hati, serta kekuatan dalam melanjutkan perjuangan dakwah dan pendidikan para ulama terdahulu.

Dr. KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha sendiri dikenal sebagai Ketua Fatwa MUI Kota Surakarta sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta. Selain aktif membina berbagai majelis ilmu, beliau juga merupakan pengurus Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PWNU Jawa Tengah yang selama ini berkiprah dalam penguatan dakwah, pendidikan, serta pendampingan hukum di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Sementara itu, Kyai Syanwani Midkhol dan Kyai Fathul Mujib Midkhol merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Faqih II Selo, Grobogan. Keduanya dikenal luas sebagai ulama yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan Al-Qur’an, pengkajian kitab kuning, pembentukan karakter santri, serta pembinaan ruhani yang menjadi tradisi pesantren salaf. Di bawah asuhan keduanya, para santri tidak hanya dididik untuk menguasai ilmu-ilmu syariat, tetapi juga dibimbing dalam aspek adab, akhlak, serta laku spiritual yang menjadi pondasi penting dalam meniti jalan ilmu.

Bagi para masyayikh, Muharram bukan sekadar pergantian angka dalam penanggalan Hijriah, tetapi menjadi momentum untuk memperbaharui niat, memperkuat hubungan kepada Allah SWT, memperbaiki diri, serta menumbuhkan semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke kompleks makam Ki Ageng Henis di Laweyan, Surakarta. Dalam suasana yang khidmat dan penuh kekhusyukan, para masyayikh bersama rombongan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, membaca tahlil, berdzikir, serta memanjatkan doa sebagai bentuk muhasabah dan ikhtiar batin dalam mengawali tahun baru Islam.

Ki Ageng Henis sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa serta memiliki keterkaitan dengan trah Mataram. Jejak perjuangan beliau menjadi bagian dari mata rantai dakwah Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi kalangan pesantren, mengenang para pendahulu merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada perjuangan mereka dalam menyebarkan agama Islam dengan hikmah dan kebijaksanaan.

Usai dari Laweyan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam KH. Ma’ruf Mangunwiyoto, seorang ulama kharismatik yang dikenal memiliki kontribusi besar dalam bidang dakwah dan pendidikan Islam di Surakarta. Di tempat tersebut, para ulama kembali memanjatkan doa dan menghadiahkan bacaan Al-Qur’an kepada para pendahulu yang telah berjasa dalam menyebarkan ilmu agama dan membimbing masyarakat.

Perjalanan spiritual kemudian diteruskan menuju kompleks makam Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya yang berada di Desa Butuh, Kabupaten Sragen. Sultan Hadiwijaya dikenal sebagai pendiri Kesultanan Pajang dan merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam di Jawa. Sosoknya memiliki peranan besar dalam menyatukan kekuatan umat Islam dan meneruskan estafet perjuangan para pendahulunya.

Di lokasi tersebut, rombongan kembali menggelar doa bersama, tahlil, serta pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Suasana penuh khidmat dan kekeluargaan mewarnai seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung dengan sederhana namun sarat makna.

Menurut para masyayikh, tradisi ziarah kubur telah diwariskan oleh para ulama sebagai sarana mengingat kematian, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup orang-orang saleh, sekaligus memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT.

“Ziarah bukanlah meminta kepada yang telah wafat, tetapi menjadi wasilah untuk mengenang jasa para ulama dan orang-orang saleh, mengambil ibrah dari perjalanan hidup mereka, sekaligus memotivasi diri agar mampu melanjutkan perjuangan mereka melalui ilmu, akhlak, dan amal yang baik,” ungkap salah seorang peserta riyadhoh.

Momentum Muharram, menurut para ulama, merupakan saat yang tepat untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, memperkuat ukhuwah Islamiyah, memperbanyak amal saleh, serta meningkatkan kualitas ibadah. Karena itu, berbagai bentuk riyadhoh dan mujahadah telah menjadi bagian dari tradisi yang terus dijaga oleh kalangan pesantren Ahlussunnah wal Jamaah dari masa ke masa.

Rangkaian riyadhoh ini juga diniatkan sebagai bentuk doa untuk para santri dan generasi muda agar diberikan kemudahan dalam menuntut ilmu, kelapangan hati dalam menerima nasihat para guru, serta keberkahan dalam mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Para ulama menegaskan bahwa keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual semata, tetapi juga dari keberkahan ilmu, keikhlasan guru, kekuatan doa, serta kesungguhan dalam bermujahadah dan memperbaiki diri.

“Ilmu yang bermanfaat lahir dari perpaduan antara belajar, adab, doa, dan riyadhoh. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mengajarkan kitab, tetapi juga menanamkan ketawadhuan, keikhlasan, kesabaran, dan kedekatan kepada Allah SWT. Ilmu yang tidak disertai adab akan kehilangan cahaya keberkahannya,” tutur salah seorang masyayikh.

Melalui momentum Muharram 1448 Hijriah ini, para ulama berharap lahir generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan mampu menjawab tantangan zaman, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia, kedalaman spiritual, kecintaan kepada para ulama, serta mampu menjaga dan melanjutkan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah yang telah diwariskan para pendahulu.

Dengan menjaga keseimbangan antara ilmu, adab, dan kekuatan spiritual, diharapkan para santri dan generasi muda mampu menjadi penerus perjuangan para ulama yang tidak hanya memberikan manfaat bagi agama, tetapi juga bagi bangsa dan kemanusiaan secara luas. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, pesantren dan para ulama diharapkan tetap menjadi mercusuar yang menerangi umat dengan ilmu, hikmah, dan keteladanan, sebagaimana telah dicontohkan oleh para pendahulu yang jejak perjuangannya terus dikenang hingga hari ini.(*)

Editor: Firman

banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses