JAMBI, Beritategas.com – Hati merupakan pusat dari segala amal dan perilaku manusia. Jika hati bersih, maka baik pula ucapan dan perbuatannya. Namun apabila hati dipenuhi iri, penyakit hati dengki, sombong, dan penyakit hati lainnya, maka kehidupan akan jauh dari ketenangan dan keberkahan.
Melalui tema “Bersihkan Hati Agar Masuk Sorga”, pada Jumat 29 Mei 2026 Bertepatan 12 Dzulhijjah 1447 kita diajak ust. Sadam Husen untuk merenungi pentingnya menjaga kebersihan hati dengan memperbanyak taubat, dzikir, ikhlas dalam beramal, serta menjauhi sifat-sifat tercela. Sebab hati yang bersih akan melahirkan akhlak mulia, memperkuat iman, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga dengan membersihkan hati, kita termasuk golongan hamba yang mendapatkan rahmat dan dimasukkan ke dalam sorga-Nya. Aamiin.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Karena tidak ada bekal terbaik menuju akhirat selain ketakwaan.
Pada suatu ketika, para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menunggu shalat berjamaah di Masjid Nabawi. Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»
“Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki yang termasuk penghuni surga.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)
Mendengar sabda Nabi itu, para sahabat langsung menoleh ke arah pintu masjid. Mereka penasaran. Siapakah gerangan orang yang disebut Rasulullah sebagai penghuni surga?
Tidak lama kemudian, masuklah seorang sahabat dari kalangan Anshar. Bukan orang terkenal. Bukan orang terpandang. Bukan orang kaya. Wajah dan jenggotnya masih basah karena air wudhu. Ia masuk seperti muslim biasa lainnya. Besoknya Rasulullah kembali bersabda:“Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki yang termasuk penghuni surga.”
Dan ternyata yang datang adalah orang yang sama. Hari ketiga Rasulullah mengulanginya lagi. Dan yang muncul masih orang yang sama. Maka salah seorang sahabat mulia, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, merasa penasaran. Beliau ingin mengetahui amalan rahasia apakah yang membuat orang ini disebut penghuni surga sampai tiga kali oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya beliau meminta izin untuk menginap di rumah sahabat Anshar tersebut selama tiga hari.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Selama tiga hari Abdullah bin ‘Amr memperhatikan kehidupannya. Tetapi beliau tidak menemukan ibadah yang luar biasa. Tidak ada shalat malam yang panjang. Tidak ada puasa sunnah yang istimewa. Tidak ada dzikir yang berlebihan. Tidak ada sedekah besar yang tersembunyi. Kalau malam beliau tidur. Kalau pagi beliau bekerja. Kalau waktu ibadah tiba, beliau beribadah sebagaimana muslim biasa.
Setelah tiga hari, Abdullah bin ‘Amr berkata dengan jujur:
“Wahai saudaraku, sebenarnya aku tidak punya masalah dengan keluargaku. Aku sengaja tinggal di rumahmu karena Rasulullah menyebutmu sebagai penghuni surga. Tetapi aku tidak melihat amalan yang istimewa pada dirimu.”
Lalu sahabat Anshar itu berkata:
مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ
“Itulah diriku sebagaimana yang engkau lihat.”
















