Abdullah bin ‘Amr pun hendak pulang dengan rasa bingung. Namun belum jauh beliau berjalan, tiba-tiba sahabat Anshar itu memanggilnya kembali lalu berkata:
غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي غِشًّا لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ
“Aku tidak pernah menyimpan kebencian kepada seorang muslim pun. Dan aku tidak pernah hasad terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.”(HR. Ahmad)
Mendengar itu Abdullah bin ‘Amr berkata:
هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ
“Itulah yang membuat engkau sampai pada derajat itu.”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dari kisah ini kita belajar bahwa jalan menuju surga bukan hanya memperbanyak ibadah lahiriah. Tetapi juga membersihkan hati. Kadang mulut kita rajin berdzikir, tetapi hati kita penuh iri. Kadang badan kita hadir ke masjid, tetapi hati kita dipenuhi kebencian.
Kadang kita senang melihat kekurangan orang lain, bahkan sedih melihat kebahagiaan saudaranya sendiri.
Inilah penyakit hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari kiamat, harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”(QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Penyakit hati itu sangat berbahaya. Orang sombong rugi dunia dan akhirat. Di dunia dijauhi manusia. Di akhirat mendapatkan ancaman dari Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji dzarrah.”(HR. Muslim).
Begitu juga iri dengki. Orang yang iri hidupnya tidak pernah tenang. Dia sibuk melihat nikmat orang lain. Dia sulit bersyukur atas nikmat dirinya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Jauhilah sifat hasad, karena hasad itu memakan pahala sebagaimana api memakan kayu bakar.”(HR. Abu Dawud)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Lalu bagaimana cara mendeteksi penyakit hati? Salah satunya dengan memperbanyak silaturahmi dan bergaul dengan orang-orang saleh. Karena sering kali orang lain lebih tahu sifat buruk kita daripada diri kita sendiri. Kadang kita merasa rendah hati, padahal orang lain melihat kita sombong. Kadang kita merasa baik-baik saja, padahal hati kita penuh iri dan dengki. Maka jangan alergi terhadap nasihat.
Kemudian bagaimana cara mengobatinya? Menurut ust. Sadam Husen datanglah ke majelis ilmu. Duduklah bersama orang-orang saleh. Dengarkan Al-Qur’an dan hadis Nabi. Karena hati juga butuh obat. Sebagaimana badan sakit perlu dokter, maka hati yang sakit perlu nasihat dan ilmu agama.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita periksa hati kita masing-masing. Apakah hati ini masih mudah iri? Apakah hati ini masih mudah membenci?Apakah hati ini masih sulit memaafkan? Karena bisa jadi yang menghalangi kita masuk surga bukan kurangnya ibadah, tetapi kotornya hati kita.
Semoga dengan membersihkan hati, kita termasuk golongan hamba yang mendapatkan rahmat dan dimasukkan ke dalam sorga-Nya. Aamiin.
Diakhir pertemuan ini Harapan kita sebagai umat muslim menurut ust. Sadam Husen adalah memiliki hati yang bersih, penuh keikhlasan, jauh dari iri, dengki, sombong, dan segala penyakit hati. Dengan hati yang bersih, kita dapat hidup lebih tenang, saling menyayangi, serta semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
















