Peringati Hari Santri Nasional, Semar Mengaji undang Dr. KH. Mustain Nasoha Ajak Santri Kuasai Kitab Kuning, Pahami Dinamika Global, dan Siap Hadapi Era Glokalisasi

HARI SANTRI

SURAKARTA, Beritategas.com — Semangat Hari Santri Nasional bergema dalam kegiatan Sebelas Maret (Semar) Mengaji yang diselenggarakan di Ruang Utama Masjid Nurul Huda, Universitas Sebelas Maret (UNS). Mengusung tema “Santri Vision: Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, kegiatan ini menjadi momentum istimewa untuk meneguhkan peran santri sebagai generasi berilmu, berakhlak, berwawasan luas, dan siap mengambil bagian dalam pembangunan bangsa. Kamis (22/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Dr. KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha mengajak para santri dan generasi muda untuk menatap masa depan dengan penuh optimisme.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, santri tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga harus tampil sebagai pelaku perubahan yang mampu menjawab tantangan zaman melalui penguasaan ilmu agama, kecakapan intelektual, dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Menggali Kitab Kuning, Menjawab Tantangan Zaman.

Dalam penyampaiannya, Dr. KH. Mustain Nasoha merujuk pada dalil-dalil Al-Qur’an, hadis, serta khazanah kitab kuning karya para ulama sebagai fondasi dalam membangun cara pandang santri terhadap kehidupan.

Tradisi pesantren, menurutnya, menyimpan kekayaan metodologi keilmuan yang relevan untuk menjawab persoalan kontemporer, mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi, hingga hukum dan kebangsaan.

Penguasaan kitab kuning bukan sekadar kemampuan membaca teks klasik, melainkan juga latihan berpikir kritis, memahami konteks, menimbang perbedaan pendapat, serta merumuskan solusi secara ilmiah dan bertanggung jawab.

Dengan bekal tersebut, santri diharapkan mampu berdiri teguh pada prinsip keislaman sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Membaca Dinamika Global, Menyiapkan Generasi Masa Depan

Di tengah perubahan dunia yang berlangsung begitu cepat, santri dituntut untuk memahami dinamika global. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, kompetisi sumber daya manusia, hingga pergeseran sosial dan budaya menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda Indonesia.

Santri tidak boleh tertinggal dalam arus perubahan. Mereka perlu memperkuat literasi digital, menguasai bahasa asing, mengembangkan kemampuan riset, serta membangun daya saing tanpa kehilangan identitas keislaman dan keindonesiaan.

Pesan penting yang mengemuka dalam kajian tersebut adalah kesiapan santri menghadapi era glokalisasi, yaitu kemampuan mempertemukan wawasan global dengan nilai-nilai lokal.

Santri perlu memahami perkembangan dunia, tetapi tetap berpijak pada tradisi pesantren, kearifan masyarakat, nilai Pancasila, dan semangat menjaga keutuhan bangsa.

Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi penonton perubahan, melainkan turut menentukan arah perubahan itu sendiri.

Santri Vision: Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas

Tema “Santri Vision: Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” menjadi ajakan untuk membangun generasi santri yang memiliki visi jauh ke depan.

Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, kuat secara moral, dan memiliki komitmen terhadap keadilan serta kemaslahatan masyarakat.

Santri masa depan harus mampu hadir di berbagai ruang pengabdian: dunia pendidikan, penelitian, teknologi, ekonomi, hukum, pemerintahan, hingga diplomasi internasional. Tradisi keilmuan pesantren harus menjadi sumber kekuatan untuk melahirkan gagasan, inovasi, dan solusi bagi persoalan bangsa.

Momentum Hari Santri Nasional melalui kegiatan Sebelas Maret Mengaji pun menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia memerlukan generasi yang berakar kuat pada tradisi, tetapi tidak takut melangkah menuju kemajuan.

“Santri harus menguasai turats, memahami realitas global, dan menghadirkan solusi bagi umat dan bangsa. Berakar pada tradisi, berwawasan mendunia, serta bergerak untuk kemaslahatan bersama.”

Melalui semangat tersebut, Sebelas Maret Mengaji diharapkan tidak berhenti sebagai forum pengajian, tetapi menjadi ruang inspirasi dan penguatan visi bagi lahirnya generasi santri yang siap berkontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas.(*)

banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *