JAMBI, Beritategas.com – Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi (UNJA), M Haris Elwardiansyah, S.Pd., M.Pd., Gr., berhasil menjadi wisuda terbaik dengan predikat cumlaude. Ia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.00 dalam Rapat Terbuka Senat UNJA Wisuda ke-122 yang berlangsung di Gedung Balairung Pinang Masak UNJA, Mendalo, pada Sabtu (14/02/2026).
Lahir di Padang pada 5 Juli 1991, Haris menyelesaikan pendidikan magister dalam waktu 1 tahun 5 bulan dan resmi dinyatakan lulus pada 6 Januari 2026. Capaian akademik tersebut menjadi penanda keberhasilannya dalam menjalani peran ganda sebagai pendidik, mahasiswa, sekaligus kepala keluarga.
Haris merupakan lulusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Padang, yang diselesaikannya pada Maret 2014. Secara latar belakang, ia memang disiapkan sebagai seorang guru. Namun, selepas menyelesaikan pendidikan sarjana, kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan dirinya untuk langsung menekuni profesi tersebut.
“Secara basic saya memang guru. Tapi setelah lulus S1, kondisi keluarga waktu itu belum memungkinkan. Saya harus mencari pekerjaan yang honornya bisa langsung menutupi kebutuhan bulanan,” ujar Haris.
Situasi tersebut membuatnya bekerja di sejumlah perusahaan finance sebagai batu loncatan. Meski sempat menjadi lulusan terbaik, ia harus menunda impian untuk sepenuhnya terjun ke dunia pendidikan demi menopang kebutuhan keluarga.
Perjuangan Haris kembali diuji ketika ia memutuskan melanjutkan studi magister sambil tetap menjalankan tugas sebagai guru. Pada semester awal, perkuliahan dilaksanakan setiap Jumat dan Sabtu, dimulai sejak Jumat siang hingga malam hari, kemudian dilanjutkan pada Sabtu hingga pukul enam sore.
“Semester satu itu cukup berat. Saya berangkat dari Tanjung Jabung Barat habis subuh, paling lambat jam enam pagi sudah berangkat. Sampai di Jambi, istirahat sebentar, salat Jumat, lalu langsung kuliah sampai malam,” ujarnya.
Untuk menjaga profesionalitas sebagai pendidik, Haris mengatur strategi pembagian waktu dengan mengurus surat izin belajar ke BKD serta menata ulang jadwal mengajar agar seluruh jam mengajarnya dipadatkan dari Senin hingga Kamis.
“Kalau soal tugas, memang tidak bisa ditunda. Di S2 ini hampir setiap minggu ada tugas, menulis, proposal, dan presentasi. Selesai satu, malamnya sudah lanjut tugas berikutnya,” jelasnya.
Selama menjalani studi, Haris juga dihadapkan pada tantangan dalam mengelola kebutuhan ekonomi keluarga. Sebagai tulang punggung keluarga, ia harus cermat mengatur pengeluaran, termasuk biaya perjalanan dari Tanjung Jabung Barat ke Jambi yang harus ditempuh secara rutin setiap pekan.
Kondisi tersebut menuntut perencanaan yang matang serta komitmen tinggi agar proses studi tetap berjalan dengan baik.
“Biaya bolak-balik itu sekitar enam ratus sampai tujuh ratus ribu rupiah per minggu. Dari awal saya sudah komunikasi dengan istri bahwa akan ada pos pengeluaran baru, yang artinya ada kebutuhan lain yang harus dikorbankan,” ujar Haris.
Menurut Haris, keputusan melanjutkan studi tidak pernah diambil secara sepihak. Dukungan dan persetujuan istri menjadi kekuatan utama yang membuatnya mampu bertahan hingga akhir masa studi.
“Saya luar biasa berterima kasih pada istri saya. Dukungan dia itu luar biasa. Bahkan di akhir semester, dia bilang: kamu harus selesai semester ini, kita sudah tidak punya tabungan lagi, anak sebentar lagi masuk SD,” ujarnya.
Dengan dukungan keluarga, rekan sejawat di sekolah, serta lingkungan akademik yang suportif, Haris akhirnya berhasil menuntaskan seluruh kewajiban akademik tepat waktu dan meraih predikat cumlaude.
Kisah Haris menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi dan jarak bukan penghalang untuk meraih prestasi, selama diiringi manajemen waktu yang baik, komunikasi keluarga yang kuat, dan tekad yang konsisten.
Kunjungi: www.unja.ac.id
Pewarta : A.Erolflin
Editor : Firman
















