Hikmah Ramadan

JAMBI, Beritategas.com – Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Bapak/ibu yang di rahmati dan yang di muliakan Allah Alhamdulillah. Puji dan syukur yang setinggi-tingginya kita panjatkan kepada Allah Dzat yang maha memberi nikmat, sekaligus mengantarkan kita hingga Jumat ini.

Salawat dan salam semoga tercurah kepada Baginda Alam Habinana wa Nabiyyana Muhammad shallallahu alaihi wasallam (SAW). Sosok yang menjadi penghulu para nabi dan rasul. Nabi yang menjadi pembuka hidayah bagi umatnya. Serta kepada para sahabatnya, para tabi’in, tabi tabi’in, hingga kepada kita semua yang senantiasa berharap diakui umatnya yang kelak mendapatkan syafaatnya.

Bacaan Lainnya

Alhamdulillah hari ini kita kembali ditemani Ust. Sadam Husen, S.Sy dalam kajian islam dengan tema Hikmah Ramadan. Ma’asyiral muslimin jamaah Rokhimakumullah Pada Kesempatan ini ust. Sadam mengajak kita sekalian, marilah kita sama-sama meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Dengan menjalankan seluruh yang di perintahkan nya dan meninggalkan segala yang menjadi larangan Allah.

Ma’asyiral muslimin jamaah Rokhimakumullah, Hikmah pertama, puasa Ramadhan adalah bentuk kasih sayang Allah untuk umat Rasulullah agar dapat melipat gandakan pahala ibadah dan meraih bermacam-macam kebaikan.

Sebagaimana diketahui, usia rata-rata umat Rasulullah itu hanya 60 tahunan. Dengan adanya bulan Ramadhan, ibadah kita bisa menandingi ibadah umat-umat terdahulu yang usianya sampai ratusan tahun. Hal ini terjadi karena dilipat gandakannya ibadah umat Rasulullah di bulan Ramadhan, salah satunya melalui malam Lailatul Qadar.

Allah berfirman dalam Surat Al-Qadar:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.

Puasa memberi pelajaran bahwa Allah kuasa mengunggulkan suatu perkara di antara perkara-perkara yang lain. Dan, bulan Ramadhan pun diunggulkan di antara bulan-bulan yang lain. Demikian halnya Allah mengunggulkan hamba-hamba-Nya di antara hamba-hamba yang lain. Sehingga tak heran kita mendapati ada manusia yang kaya, ada yang alim, ada yang tampan, dan seterusnya.

Ma’asyiral muslimin jamaah Rokhimakumullah,
Di sisi yang lain, Allah juga kuasa menjadikan hamba-hamba sebaliknya dari keadaan itu. Artinya, bukan Allah tak kuasa membuat kaya semua hamba-Nya. Bukan Allah tidak kuasa memberi ilmu kepada semua hamba-Nya. Tapi di balik itu Allah memberikan keadilan dan hikmah yang luar biasa.

Baca  Gubernur Jambi Ajak Wisudawan : “Pandai Mencari Peluang Mengembangkan Diri”

Kedua, pelajaran penting lainnya dari Ramadhan adalah melahirkan hubungan dan rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tidak ada hamba yang dapat melihat hakikat hubungan dan rahasia itu kecuali Allah. Sehingga pantas tidak ada yang berhak membalas puasa kecuali Allah.

Sungguh, pelajaran Ramadhan yang satu ini sangat penting bagi kita untuk selalu mengaitkan segala sesuatu dengan Allah. Sehingga kita selamanya berhubungan dengan Allah, merasa dilihat dan diawasi oleh Allah.

Merasa diatur oleh Allah, merasa digerakkan oleh Allah, layaknya kita sedang berpuasa tak berani membatalkan puasa karena merasa dilihat Allah meski tak ada seorang pun yang melihat.

Intinya, segala sesuatu yang terjadi tak ada yang luput dari pengawasan dan ketentuan Allah. Begitu pula kita ibadah itu bukan karena makhluk, tetapi karena Allah. Sehingga harus merasa berada di hadapan Allah. Selanjutnya, kita tidak berani berbuat dosa sebab merasa ditatap oleh Allah.

Inilah ihsan, sebagaimana digambarkan Rasulullah saat ditanya malaikat Jibril.

قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ؟، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: Malaikat Jibril bertanya: Wahai Rasulullah, apa artinya ihsan? Beliau menjawab: Ihsan itu engkau beribadah kepada Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya. Kendati engkau tidak melihat-Nya, tetapi Dia selalu melihatmu, (HR. Ahmad).

Walhasil, pelajaran ini harus benar-benar dijiwai dengan menyadari bahwa ibadah kita hanya untuk Allah dan seperti berada di hadapan Allah. Kendati belum bisa merasa berada di hadapan Allah, sadarilah bahwa kita senantiasa ditatap Allah.

Ma’asyiral muslimin jamaah Rokhimakumullah Ketiga, pelajaran Ramadhan adalah menyadarkan bahwa kewajiban berpuasa dengan menahan segala sesuatu yang sebelumnya halal seperti makan dan minum, hubungan badan suami isteri disiang hari pada bulan Ramadhan.

Namun, puasa dari perkara yang haram itu sepanjang bulan bahkan seumur hidup. Jika selama puasa kita diperintah menahan diri dari perkara yang halal, maka apalagi perkara yang haram.

Nah, sesungguhnya puasa ingin memberi pelajaran kepada kita semua bahwa dalam segala hal tidak boleh berlebihan, termasuk dalam menikmati perkara yang halal. Ramadhan mengajarkan kita tentang kesederhanaan karena Allah tidak menyukai manusia yang berlebihan.

Baca  Penyesalan Penghuni Neraka

Demikian sebagaimana yang diamanatkan dalam Al-Quran:

يا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: Wahai anak-cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah setiap (memasuki) masjid, juga makan dan minumlah kalian, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukain orang-orang yang berlebihan, (QS. Al-A’raf [7]: 31).

Malahan, dalam ayat yang lain, orang yang berlebihan itu diancam digolongkan ke dalam ahli neraka.

وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ

Artinya: Sesungguhnya orang yang berlebihan mereka itu golongan ahli neraka, (QS. al-Mu’min [40]: 43).

Ma’asyiral muslimin jamaah Rokhimakumullah Keempat, puasa memberi pelajaran bagi kita untuk menyantuni kaum dhuafa. Selama puasa kita menahan lapar dan belajar merasakan bagaimana laparnya orang-orang lemah. Sehingga di akhir Ramadhan, kita diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah, infaq, dan sedekah. Di antaranya untuk menunjukkan kasih sayang dan kepedulian kita kepada mereka.

Yang lebih penting lagi, zakat itu untuk membersihkan diri dari segala macam kotoran batin yang tak terlihat secara kasat mata. Sekaligus zakat juga menjadi penyulam dan penambal puasa kita dari perkara yang merusak kesempurnaannya. Dari zakat ini diharapkan mengingat bahwa dalam rezeki kita ada hak orang lain yang harus diberikan.

Ma’asyiral muslimin jamaah Rokhimakumullah Itulah sebagian pelajaran Ramadhan untuk kita cermati bersama. Insyaallah, masih banyak pelajaran lain yang dapat kita renungkan dan kita maknai. Sekali lagi, kita jangan sampai melewatkan dan meninggalkan Ramadhan tanpa kesan. Harus ada nilai yang membekas dan pelajaran berarti bagi kita sebagai hasil gemblengan dan didikan Ramadhan.

Mudah-mudahan kita termasuk hamba yang kembali fitrah yang berarti kembali kepada kesucian dan ampunan dosa-dosa.

Pada kesempatan ini izin saya menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H Minal a’idin walfaizin. Semoga kita termasuk hamba yang meraih kemenangan. Semoga amaliah kita selama Ramadhan diterima Allah subḥānahū wa ta‘ālā. Dan, doa-doa yang kita panjatkan diterima-Nya. Aamiin ya robbal alamin. Aamiin ya mujibassailin.

Pewarta: A. Erolflin
Editor: Firman

banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *