JAMBI, Beritategas.com – Universitas Jambi (UNJA) resmi mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Sri Arnita Abu Tani, M.S. sebagai Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Jambi dalam bidang ilmu kepakaran budidaya sapi potong ramah lingkungan. Pengukuhan tersebut berlangsung di Balairung Pinang Masak, Kampus UNJA Mendalo, pada Selasa (10/02/2026), kemarin.
Lahir di Karimun pada 11 Maret 1963, Prof. Sri Arnita merupakan dosen pegawai negeri sipil yang telah mengabdi sejak tahun 1993. Setelah menamatkan pendidikan menengah atas, ia melanjutkan studi sarjana S1 Produksi Ternak di Universitas Andalas dan lulus tahun 1985. Pendidikan S2 Ilmu Ternak di Institut Pertanian Bogor pada1991, kemudian meraih gelar doktor (S3) Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan di institusi yang sama pada 2017.
Dalam kehidupan pribadinya, Prof. Sri Arnita merupakan satu-satunya anak dari sebelas bersaudara yang menyematkan nama ayahnya “Abu Tani” di belakang namanya. Baginya, orang tua adalah sosok utama yang menjadi kunci keberhasilan hidup.
“Sosok yang paling berharga itu pasti orang tua. Selagi mereka ada, di situlah pintu rezeki kita akan terbuka. Dan saya juga cukup dekat dengan orang tua dan hanya saya yang memakai nama bapak saya, ‘Abu Tani’. Beliau selalu bangga dan mendorong saya untuk tidak pantang menyerah,” jelas Prof. Sri Arnita.
Perjalanan akademiknya menuju gelar Guru Besar dilalui dengan penuh tantangan. Ia mengungkapkan bahwa titik terendahnya terjadi ketika harus menghadapi penolakan hingga tiga kali. Sementara rekan sejawat lainnya dapat lolos dalam satu kali pengajuan, ia harus melakukan revisi dan pengajuan ulang beberapa kali.
“Saya tiga kali diuji dan dikuliti satu per satu. Saya bilang ke teman-teman, mengusulkan ini seperti bermain game, kalau kalah ya ulang lagi. Jangan menyerah, gagal adalah keberhasilan yang tertunda. Ketika kita berusaha maksimal, di situlah ada tangan-tangan Allah bekerja memberikan jalan,” ungkapnya berpegangan dengan prinsip hidupnya yaitu ‘Harus menang’.
Kepeduliannya terhadap petani dan peternak kecil tercermin dari aktivitas pengabdiannya di Desa Pudak. Di sana, ia membina peternak melalui pemanfaatan teknologi sederhana.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah penggunaan jamu berbahan kunyit, temulawak, dan kencur untuk meningkatkan nafsu makan serta imunitas ternak sapi. Hasilnya, sapi yang awalnya kurus dapat mencapai bobot ideal dalam waktu tiga bulan.
Selain itu, ia juga menerapkan sistem pertanian terpadu (integrated farming) yang ramah lingkungan. Kotoran ternak diolah menjadi kompos dan briket, sementara masyarakat diedukasi untuk memanfaatkan lahan pekarangan dengan menanam sayuran dan labu madu.
“Prinsip hidup saya adalah harus bisa memberikan banyak manfaat ke orang lain. Saya lebih mengutamakan pengabdian. Ilmu yang dimanfaatkan orang lain adalah tabungan akhirat yang luar biasa. Petani di desa harus dibantu dengan teknologi sederhana yang tersedia di sana,” tegasnya.
Menanggapi tantangan dunia pendidikan saat ini, Prof. Sri Arnita memberikan pesan kepada generasi muda tidak hanya mengandalkan nilai akademik, tetapi harus memiliki kompetensi tambahan dan mentalitas kewirausahaan.
“Saya selalu tekankan pada mahasiswa, dalam diri kalian harus ada kata ‘bisa’. Jangan bangga dengan IPK 4 jika tidak punya kreativitas. Persaingan sekarang luar biasa ketat. Kalian harus isi ‘peluru’ dengan kemampuan berbahasa Inggris dan menguasai teknologi digital. Jadilah wirausaha yang menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja,” pungkasnya.
Hingga kini, Prof. Sri Arnita terus aktif melakukan pendampingan di lapangan. Ia berharap riset yang dikembangkan benar-benar membantu peternak di Jambi meningkatkan kesejahteraan.
Perjalanan hidupnya menjadi cermin dari keteguhan prinsip, ketulusan pengabdian, dan semangat pantang menyerah. Kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda bagi mereka yang terus berusaha.
Kunjungi: www.unja.ac.id
Pewarta : A.Erolflin
Editor : Firman






