Pertama, keimanan kepada Allah. Sebab keimanan inilah yang menjadi fondasi dari sifat tawakal. Allah berfirman:
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23).
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa dalam ayat ini disebutkan kata iman, sehingga menunjukkan adanya korelasi antara iman dan tawakal. Karena kuat atau lemahnya tawakal itu tergantung dari kuat dan lemahnya iman seseorang. Maka jika iman seseorang kuat maka tawakal akan kuat, begitu pula sebaliknya. (Thariqul Hijratain, Ibnu Qayyim, 2/557)
Kedua, keimanan kepada takdir.
Keimanan kepada takdir inilah yang menjadi pendorong terkuat dari tawakal, sebab seseorang itu yakin bahwa Allah telah menetapkan takdirnya meliputi hidup, rezeki, pasangan, keturunan, penghasilan, dan akhiratnya.
Sehingga seseorang tidak takut dan khawatir akan masa depannya, serta hidup dalam ketenangan hati dan ridha atas apa-apa yang telah Allah tuliskan untuknya.
Perlu diingat bahwa tawakal ini bukan berarti meninggalkan sebab-sebab kauniyah yang bisa dikerjakan hamba. Artinya bukan pasrah begitu saja tanpa berusaha, sebab tawakal itu tempatnya di hati sedangkan usaha beramal itu tugasnya anggota badan. (Tafsir Manar, M. Rasyid Ridha, 4/170).
Ma’asyirol muslimin arsyadani wa arsyadakumullah
Ketika seseorang telah berusaha memupuk tawakal, niscaya Allah akan menurunkan buah-buah dari sifat tawakal tersebut.
Adapun beberapa buah dari tawakal sebagai berikut:
Pertama, kecintaan Allah (Mahabbatullah).
Hal ini dijelaskan dalam firman Allah:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Khatib Asy-Syarbini menjelaskan bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertawakal, yaitu dengan menolong mereka, memberikan hidayah, serta kebaikan. (As-Siraj Al-Munir, Khatib Asy-Syarbini, 1/260).






