Beritategas.com – Ada kejutan menarik dari Bima Al Ayman Modjo. Nama yang selama ini lebih akrab dengan raket, lapangan, dan kok itu kini datang membawa gitar, suara, dan sebuah lagu tentang perasaan yang belum benar-benar selesai.
Pada 23 Oktober 2026, Ayman memperkenalkan single terbarunya, Rindu yang Lirih. Bagi sebagian orang, mungkin ada satu fakta yang segera membuat penasaran: Ayman adalah putra Akhdiyat Duta Modjo, vokalis Sheila on 7. Namun, setelah mendengarkan lagunya sampai selesai, saya justru merasa hubungan keluarga itu bukan hal paling menarik untuk dibicarakan.
Sebab, Rindu yang Lirih memberi alasan kepada kita untuk mulai mengenal Ayman sebagai Ayman. Saya mendengarkan lagu ini bukan sebagai kritikus musik, melainkan sebagai seorang dosen yang sehari-hari bertemu anak-anak muda dan tertarik melihat bagaimana generasi mereka menemukan ruang untuk mengekspresikan diri.
Kebetulan saya juga sedang menempuh pendidikan doktoral di Malaysia. Ketika lagu ini saya perdengarkan kepada salah seorang mahasiswa Malaysia di lingkungan kampus, respons spontan yang muncul sederhana: lagunya bagus dan easy listening.
Ketika saya kemudian mengatakan bahwa penyanyinya adalah putra Duta Sheila on 7, ia terkejut. Reaksi kecil itu justru menarik. Artinya, lagu tersebut dapat lebih dahulu berbicara melalui musiknya sebelum identitas besar sang ayah diketahui pendengarnya. Dan barangkali di situlah kemenangan pertama Ayman.
Menjadi anak seorang musisi sebesar Duta tentu merupakan anugerah sekaligus tantangan. Publik hampir pasti membandingkan. Warna suara dicari kemiripannya. Cara bernyanyi diamati. Bahkan sebelum karya dinilai, nama ayah telah lebih dahulu menjadi standar.
Namun, anak seorang musisi tidak selamanya harus menjadi fotokopi ayahnya.
Rindu yang Lirih menunjukkan kemungkinan lain itu. Lagu ini dibuka dengan petikan gitar akustik yang sederhana. Tidak berusaha mengejutkan pendengar dengan produksi berlebihan. Kesederhanaan tersebut justru memberi ruang bagi vokal Ayman untuk tampil.
Karakter suaranya terasa hangat, muda, tetapi memiliki warna tersendiri. Ia tidak terdengar sedang berusaha menjadi Duta. Ia terdengar sedang menjadi Ayman.
Tema lagunya pun sangat dekat dengan pengalaman emosional generasi muda: seseorang yang berusaha menutup masa lalu, tetapi ternyata kenangan tidak memiliki tombol hapus.
Ada memori yang sudah disimpan rapi, tetapi masih bisa terbuka. Ada tempat tertentu yang mengembalikan ingatan. Ada ketakutan untuk berharap lagi. Dan pada akhirnya, ada kerinduan yang tidak lagi berteriak meminta seseorang kembali. Ia hanya tinggal dengan lirih.
Karena itu, saya tidak membaca lagu ini semata-mata sebagai lagu tentang seseorang yang gagal move on. Tafsir seperti itu terlalu sederhana.
Menurut saya Rindu yang Lirih justru berbicara mengenai fase yang lebih dewasa: ketika seseorang mengetahui bahwa ia masih memiliki rasa, tetapi mulai belajar hidup bersama kenyataan bahwa tidak semua yang dirindukan harus kembali dimiliki.
Salah satu gagasan paling kuat dalam lagu ini muncul ketika tokoh lirik membayangkan keberanian untuk bertemu lagi dan belajar menjadi dewasa.
Kerinduan akhirnya tidak ditempatkan sebagai kelemahan. Ia menjadi bagian dari proses pertumbuhan. Dan disinilah lagu tersebut menemukan relevansinya bagi anak muda.
Menariknya, musik bukan satu-satunya arena tempat Ayman membangun dirinya.
Bima Al Ayman Modjo juga merupakan atlet bulu tangkis. Profil resmi PBSI mencatat namanya sebagai atlet asal Sleman dengan ID BWF 93192.
Ia telah bersentuhan dengan kompetisi internasional, sesuatu yang membutuhkan disiplin, latihan panjang, konsistensi, dan keberanian menghadapi kemenangan maupun kekalahan.
Kita akhirnya melihat kombinasi yang jarang: seorang anak muda yang tumbuh dengan olahraga kompetitif sekaligus keberanian berkarya dalam musik.
Bagi saya sebagai pendidik, justru bagian inilah yang penting. Generasi muda membutuhkan lebih banyak figur yang menunjukkan bahwa masa muda tidak harus dihabiskan hanya dengan menjadi penonton kehidupan orang lain melalui layar telepon.
Energi dapat disalurkan ke lapangan olahraga. Kegelisahan dapat diubah menjadi karya. Patah hati bahkan dapat diolah menjadi lagu.
Ayman memberi contoh bahwa identitas seorang anak muda tidak harus tunggal.
Ia boleh menjadi atlet sekaligus penyanyi. Ia boleh serius berlatih bulu tangkis dan tetap menulis atau menyanyikan kegelisahan generasinya. Prestasi dan seni tidak harus saling meniadakan.
Tentu terlalu dini menempatkan Ayman sebagai nama besar baru musik Indonesia hanya berdasarkan satu karya. Jalan bermusik membutuhkan konsistensi. Akan ada lagu kedua, ketiga, panggung, kritik, kegagalan, dan pencarian musikal yang panjang. Tetapi justru karena itulah Rindu yang Lirih menarik.
Ini bukan soal apakah darah musikal Duta mengalir kepada putranya. Genetika mungkin memberikan bakat, lingkungan keluarga mungkin memperkenalkan musik sejak dini, tetapi karya tetap harus dipertanggungjawabkan oleh orang yang menyanyikannya. Nama besar orang tua dapat membuka perhatian. Ia tidak dapat memaksa orang menyukai sebuah lagu.
Ayman harus memenangkan telinga pendengarnya sendiri.
Dari respons awal yang muncul di media sosial setelah perilisan lagu ini, termasuk pujian dari sejumlah figur musik dan pendengar, ada tanda bahwa karya tersebut mendapatkan sambutan positif. Tetapi ujian sesungguhnya tentu berada pada perjalanan setelah euforia perilisan berlalu: apakah lagunya tetap diputar dan apakah Ayman terus menghasilkan karya yang memiliki identitas.
Saya berharap jawabannya iya.
Sebab Indonesia membutuhkan anak muda yang tidak takut memiliki banyak mimpi. Di lapangan, Ayman belajar mengejar kok yang jatuh di sudut tersulit.
Dalam musik, mungkin ia sedang belajar mengejar nada dan kata untuk perasaan yang jauh lebih sulit dijangkau.
Dua dunia itu ternyata memiliki kesamaan: keduanya menuntut keberanian.
Maka setelah mendengarkan Rindu yang Lirih, saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan kalimat, Inilah anak Duta Sheila on 7 yang bisa bernyanyi.
Kalimat itu terasa tidak adil. Saya lebih suka mengatakan: inilah Bima Al Ayman Modjo, seorang anak muda Indonesia yang kebetulan lahir dari seorang ayah bernama Duta, tetapi sedang berusaha menuliskan namanya sendiri. Dan Rindu yang Lirih adalah salah satu langkahnya.
Dengarkan lagu ini sampai selesai. Bukan karena siapa ayahnya, melainkan karena karya yang baik memang pantas memperoleh kesempatan untuk didengarkan. Siapa tahu, setelah petikan gitar terakhir berhenti, kita justru menemukan satu nama baru yang kelak memiliki tempatnya sendiri dalam musik Indonesia: Ayman.
Penulis: Prima Trisna Aji
Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah
Universitas Muhammadiyah Semarang






