SURAKARTA, Beritategas.com — Pondok Pesantren (Ponpes) Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta kembali menegaskan eksistensinya sebagai pusat pengembangan tradisi keilmuan Islam dengan sukses menyelenggarakan Bahtsul Masa’il Kubro I, sebuah forum ilmiah bergengsi yang mempertemukan delegasi pesantren dari berbagai wilayah Jawa Tengah, khususnya Soloraya. Kegiatan ini berlangsung di Aula Utama pondok pada Selasa (28/4/2026), dalam suasana penuh khidmat, intelektual, dan dinamis, mencerminkan hidupnya tradisi keilmuan pesantren yang terus berkembang menjawab tantangan zaman.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) ini bukan sekadar forum diskusi keagamaan, melainkan majelis ilmiah yang mengedepankan ketelitian metodologis, kedalaman analisis, serta kekuatan argumentasi berbasis kitab-kitab turats.
Para peserta yang terdiri dari santri dan utusan pesantren tidak hanya diminta menyampaikan pendapat, tetapi juga diwajibkan menghadirkan dalil yang kuat disertai kutipan (‘ibarot) langsung dari kitab mu‘tabarah.
Hal ini menjadikan Bahtsul Masa’il sebagai forum yang tidak hanya hidup secara tradisi, tetapi juga memiliki standar akademik tinggi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Tema-tema yang diangkat dalam Bahtsul Masa’il Kubro I ini mencerminkan kompleksitas persoalan umat di era modern. Di antaranya adalah isu izin istri dalam praktik poligami, yang dikaji secara komprehensif antara norma syariat dan realitas sosial masyarakat yang kerap memunculkan stigma dan polemik.
Selain itu, dibahas pula persoalan malpraktik medis dalam perspektif syariat Islam, yang menyoroti tanggung jawab profesional tenaga medis, prinsip kehati-hatian (medical due care), serta implikasi hukum dan moral terhadap keselamatan pasien.
Tema ini menjadi sangat relevan di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan pasien dan kualitas layanan kesehatan.
Tidak kalah menarik, forum ini juga mengangkat fenomena sosial terkait perubahan nama dan kaitannya dengan nasib, yang berada pada persimpangan antara keyakinan kultural dan kajian fikih.
Melalui pendekatan ilmiah yang objektif, para peserta didorong untuk mengkaji persoalan tersebut secara kritis dan proporsional, sehingga menghasilkan pemahaman yang tidak terjebak dalam asumsi atau kepercayaan yang tidak memiliki dasar syar‘i.
Bobot ilmiah kegiatan ini semakin kuat dengan kehadiran para pakar Bahtsul Masa’il tingkat nasional yang diundang secara khusus oleh panitia untuk mengawal jalannya pembahasan.
Para pakar tersebut berperan sebagai mushahhih (validator), perumus (formulator), serta narasumber ahli yang memastikan bahwa setiap hasil Bahtsul Masa’il tidak hanya argumentatif, tetapi juga valid dan kokoh secara keilmuan.
Adapun yang bertindak sebagai mushahhih adalah Kyai Zainal Arifin, Kyai Zaimul Abror dan Kyai Muhammad Saifuddin Masykuri. Sementara itu, tim perumus terdiri dari Kyai Muhammad Nawawi, Kyai Muhammad Muslikh, Kyai Mufid Syafi’i, serta Kyai Apt. Isa Abdul Haq, S.Far., Al-Hafidz, yang berperan merumuskan hasil diskusi secara sistematis, metodologis, dan komprehensif.
Lebih lanjut, kegiatan ini juga diperkuat dengan kehadiran pakar lintas disiplin, yakni Direktur RSUD Dr. Moewardi Surakarta, Dr. dr. Patria Bayu Murdi, M.H., serta perwakilan dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (KOMNAS Perempuan).
Kehadiran mereka memberikan perspektif tambahan yang memperkaya pembahasan, sehingga Bahtsul Masa’il tidak hanya bertumpu pada kajian tekstual, tetapi juga mampu menjawab realitas kontemporer secara multidimensional dan aplikatif.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan yang memperkuat arah dan visi keilmuan pesantren.
Ketua Pondok, Ust. Hadziq Maftuh, dalam sambutannya menegaskan bahwa Bahtsul Masa’il merupakan ruh keilmuan pesantren yang harus terus dijaga sebagai sarana menjawab persoalan umat secara ilmiah dan bertanggung jawab.
Selanjutnya, Ketua Yayasan, Ust. Wassim Ahmad Fahruddin, menekankan peran strategis pesantren sebagai pusat peradaban ilmu yang tidak hanya melahirkan generasi alim, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Adapun Pengasuh Pondok dalam sambutannya menegaskan bahwa Bahtsul Masa’il adalah warisan intelektual ulama yang harus terus dikembangkan agar mampu melahirkan solusi keagamaan yang mendalam, bijak, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Pelaksanaan Bahtsul Masa’il berlangsung melalui beberapa sesi jalsah yang intensif dan terstruktur. Setiap sesi menjadi ruang dialektika ilmiah yang mempertemukan berbagai pandangan, argumentasi, serta pendekatan metodologis dalam merumuskan jawaban atas persoalan yang dibahas.
Proses ini tidak hanya mengasah kemampuan berpikir kritis para santri, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi musyawarah ilmiah yang menjadi ciri khas pesantren.
Lebih dari sekadar forum akademik, Bahtsul Masa’il Kubro I ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren tetap relevan di tengah arus modernisasi dan tantangan global.
Dengan pendekatan yang mengintegrasikan turats dan realitas kontemporer, pesantren menunjukkan kemampuannya sebagai pusat produksi pemikiran keislaman yang dinamis, progresif, dan solutif.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pusat kajian keilmuan Islam yang berpengaruh.
Diharapkan, hasil dari Bahtsul Masa’il ini tidak hanya berhenti sebagai diskursus internal, tetapi juga dapat menjadi rujukan ilmiah dalam memberikan solusi keagamaan yang aplikatif dan relevan bagi masyarakat luas.
Pada akhirnya, Bahtsul Masa’il Kubro I ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan simbol kebangkitan intelektual pesantren dalam menghadirkan Islam sebagai solusi yang rasional, berbasis dalil, dan mampu menjawab tantangan zaman dengan kedalaman ilmu dan kebijaksanaan.
Editor: Firman














