Pentingnya Menjaga Tali Silaturahim

JAMBI, Beritategas.com – Allahu Akbar, Allahu Akbar… Walillahilhamd. Pagi ini, 1 Syawal 1447 H lisan kita tak henti” mengumandangkan takbir-tahmid- & tahlil, mari sejenak kita merenung: sudahkah kebesaran Allah itu meresap ke dalam relung hati kita?

Demikian disampaikan Ust Muhaimin, S.Pd, M.Il.Kom dalam khotbah Idul Fitri 1447 H dimasjid Baitul Makmur Perumahan Villa Karya Mandiri, Jaluko, Jambi Sabtu (21/03/2026), kemarin.

“Takbir kita di hari raya adalah proklamasi bahwa dunia ini kecil
dan Allah itu Maha Besar,” ujar ust Muhaimin.

Syukur kita bukan hanya dengan berlebaran, memakai baju baru, menyiapkan makanan keluarga tapi dengan
mencukupkan bilangan ibadah dan tetap istiqomah di atas petunjuk-Nya.

“Takbir bukan sekadar teriakan kemenangan. Secara filosofis, ketika kita mengucapkan Allahu Akbar, kita sedang mendeklarasikan bahwa hanya Allah
yang Maha Besar,” ujar ust Muhaimin.

Konsekuensinya, segala masalah hidup, kesulitan ekonomi, jabatan hingga kesombongan diri harus menjadi kecil dan kerdil dihadapanNya.

Sebagaimana Allah berfirman:

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Bertakbir adalah menempatkan kebesaran Allah di atas segala kepentingan duniawi. Jika Allah sudah dianggap Maha Besar, maka urusan harta, jabatan, dan gelar akan terlihat kecil.

“Tauhid yang Kokoh: Tidak takut
kepada makhluk atau tekanan hidup,” ujar ust Muhaimin yang juga Khotib sholat ied Idul Fitri, karena dalam hatinya hanya Allah yang paling besar.

Orang yang benar-benar bertakbir tidak akan pernah sombong, karena ia tahu
kehebatannya hanyalah titipan. Ia juga tidak akan putus asa, karena ia yakin
Tuhannya jauh lebih besar daripada ujian yang menimpanya.

Kemudian ust Muhaimin dihadapan jamaah Ied Idul Fitri warga perumahan Villa Karya Mandiri mengingatkan bahwa Ramadhan adalah bulan yang spesial.

Ketika tiba Ramadhan, pintu-pintu
surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syetan-syetan dibelenggu dan
pahala dilipatgandakan. Ramadlan adalah bulan yang berlimpah keberkahan.

Permulaannya penuh dengan rahmah. Pertengahannya sarat dengan
maghrifah. Pungkas nya adalah kebebasan dari api neraka.

Ramadhan adalah sebaik-baik bulan.
Di dalamnya terdapat malam yang merupakan sebaik-baik malam, malam yang lebih utama daripada seribu bulan.

Ramadhan adalah madrasah yang menempa seorang muslim menjadi insan yang dapat
merasakan lapar dan dahaganya orang-orang fakir dan miskin.

Ramadhan mengajarkan sabar dan syukur. Karena orang yang berpuasa dituntut untuk sabar dalam meninggalkan seluruh perkara yang dapat membatalkan puasa.

Ia juga semestinya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu
kembali dengan Ramadhan dan melakukan ibadah-ibadah di dalamnya.

Hadirin yang dirahmati Allah.
Berbahagialah seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu dosa-dosanya diampuni oleh Allah karena berbagai kebaikan dan ketaatan yang ia lakukan selama Ramadhan.

Sebaliknya sungguh merugi orang yang diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan,
namun kesempatan itu ia sia-siakan. Kesempatan emas itu tidak ia
manfaatkan.

Di hari yang fitri ini, jangan biarkan orang tua kita hanya mendapatkan ucapan
selamat formal. Ciumlah tangannya, peluklah tubuhnya selagi mereka masih
ada. Allah SWT menyandingkan perintah tauhid dengan perintah berbakti
kepada orang tua: (QS. Al-Isra: 23)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.

Ust mengingatkan jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan
“ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada
keduanya perkataan yang baik.

Ayat ini merupakan salah satu perintah paling fundamental yang
menyandingkan hak Allah (Tauhid) dengan hak manusia yang paling utama, yaitu
orang tua.

Allah SWT memerintahkan untuk beribadah hanya kepada-Nya (Tauhid), lalu segera menyambungnya dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa setelah hak Allah, tidak ada hak makhluk yang lebih besar daripada hak ayah dan ibu.

Ibnu Katsir menekankan potongan ayat selanjutnya: “Janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah'”. Beliau menjelaskan bahwa ini adalah tingkatan gangguan paling ringan. Jika berkata “ah” saja dilarang, maka
membentak atau menyakiti fisik mereka jauh lebih diharamkan.

Beliau mengutip hadits bahwa seorang hamba tidak akan masuk surga jika ia mendapati orang tuanya masih hidup namun tidak menjadikannya sebab masuk surga (karena tidak berbakti).

Ingatlah hadits Nabi SAW: “Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang
tua, dan murka Allah terletak pada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi).

“Jangan sampai kening kita hitam karena sujud, namun hati orang tua kita hitam
karena luka yang kita goreskan”.

Zaman ini penuh dengan fitnah dan kerusakan moral. Kita sering sibuk
memikirkan warisan harta untuk anak, namun lupa mewariskan iman.

Pendidikan agama bukan sekadar kurikulum, tapi penyelamat di akhirat.
Allah memperingatkan dalam Al-Qur’an: Surat At-Tahrim: 6

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa
yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.

Rumah tangga adalah benteng utama. Jadikan teladan, ajarkan akhlak
mulia, dan ingatkan untuk selalu taat kepada Allah agar keluarga terhindar dari siksa neraka yang dijaga oleh malaikat kasar dan keras.

Jadikan anak-anak kita ahli di bidangnya masing-masing—namun pastikan di dalam dadanya tetap berdenyut kalimat La ilaha illallah.

Ajarkan kepada mereka iman, Al Quran dan akhlaq mulia. Karena di masa depan, bukan harta kita yang menolong mereka, melainkan keteguhan iman dan kebaikan
akhlaq yang kita tanamkan hari ini.

Selanjutnya Ramadhan juga telah melatih kita untuk menahan diri. Idul Fitri adalah saatnya membuka diri. Jangan biarkan ibadah sebulan penuh ini
hangus karena ego yang menolak untuk memaafkan.

Pentingnya menjaga tali silaturahim ditegaskan dalam hadits:

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan
(silaturahim).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meminta maaf bukanlah tanda kekalahan, melainkan tanda kebesaran jiwa.
Rendahkan hati kita hari ini, carilah mereka yang pernah tersakiti oleh lisan kita, daripada kita harus mencari mereka di tengah jutaan manusia di Padang Mahsyar kelak untuk mempertanggungjawabkan satu kata yang melukai hati.

Surat Ali ‘Imran: 134
(Yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan
Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.

Pewarta : A. Erolflin
Editor : Firman

Ikuti Berita Kami di :KLIK DI SINI Atau GABUNG DI SINI
banner 300x250banner 300x250banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses