JAMBI, Beritategas.com – Kehidupan di dunia hanyalah persinggahan sementara, sebuah ladang tempat kita menanam yang hasilnya akan kita tuai di akhirat kelak. Namun, tidak sedikit manusia yang terbuai oleh gemerlap dunia hingga melupakan tujuan hakiki penciptaannya. Akibatnya, gerbang penyesalan terbuka lebar saat semuanya sudah terlambat.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Sidang pembaca sekalian yang dirahmati Allah. Redaksi Beritategas.com kembali hadir menyuguhkan ruang ilmu lewat kajian Islam. Pada kesempatan Jumat, 8 Safar 1448 (24/07/2026) ini, redaksi akan menyajikan pokok kajian yang sangat menyentuh hati, yaitu “Penyesalan Penghuni Neraka”.
Bagaimana Al-Qur’an menggambarkan rintihan, jeritan, dan permohonan penduduk neraka agar dikembalikan ke dunia? Mengapa penyesalan mereka sama sekali tidak lagi bernilai di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala ?
Ustadz Sadam Husen melalui kajian ini, mengajak sidang pembaca bapak/ibu untuk bercermin dan memperbaiki diri selagi nafas masih dikandung badan, agar kita tidak menjadi bagian dari mereka yang merugi di akhirat.
Pertama tama mari kita selalu bertakwa dan bersyukur pada Allah atas seluruh nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada panutan kita, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam (Saw) yang kita nantikan syafaatnya di yaumil kiyamah nanti.
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah 197).
Jika nasi sudah menjadi bubur, tidak berguna lagi menyesal, itulah yang dialami penghuni neraka nanti. Mereka hanya bisa menyesal, menyesal dan menyesal. Namun, penyesalan itu sama sekali tidak ada manfaatnya sedikitpun.
Dalam Al Qur’an, Allah sebutkan penyesalan penghuni neraka sebagai bentuk pelajaran bagi manusia supaya tidak mengalami hal itu.
















