JAMBI, Beritategas.com – Tidak ada kalimat yang paling pantas untuk diucapkan seorang hamba di setiap detiknya melainkan kalimat hamdalah, sebagai bentuk syukur atas beribu kali nikmat Allah yang kita rasakan, namun Allah hanya meminta kepada manusia agar mensyukuri semua itu. Kemudian shalawat dan salam kita haturkan kepada uswatun hasanah, teladan yang baik, junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ.
Semoga shalawat dan salam juga tersampaikan kepada para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta orang-orang yang istiqamah hingga akhir wzaman nanti. Semoga kita semua termasuk umatnya yang mendapat syafaat beliau pada hari ketika tidak ada syafaat melainkan atas izin-Nya.
Semangat meneladani sikap tawakal menjadi pokok pembahasan dalam kajian keislaman bersama Ust. Sadam Husen pada Jumat, 10 Juli 2026, bertepatan dengan 24 Muharram 1448 Hijriah. Mari kita semua, untuk selalu meningkatkan keimanan dan takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt), karena dengan bekal takwa inilah kita akan menghadap Sang Pencipta.
Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
“Dan berbekallah kalian semua! Karena sebaik-baik bekal adalah takwa.”
(QS. Al-Baqarah: 197)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Dikesempatan ini Ust. Sadam Husen menjelaskan bahwa tawakal merupakan sikap berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar secara sungguh-sungguh. Tawakal bukanlah alasan untuk bermalas-malasan atau meninggalkan usaha, melainkan bentuk keyakinan bahwa segala hasil berada dalam kehendak Allah SWT.
“Tawakal mengajarkan kita untuk bekerja keras, berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keyakinan dan keikhlasan,” ujarnya.
Sebagaimana dikatakan oleh Al-Jurjani:
اَلتَّوَكُّلُ بِمَا عِنْدَ اللهِ، وَالْيَأْسُ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ
“Tawakal adalah sikap yakin serta percaya pada janji Allah dan memutus harapan pada sesuatu dari tangan manusia.” (At-Ta’rifat, Al-Jurjani, 70).
Sungguh, potret nyata dari implementasi sifat tawakal ini terlukis dalam kehidupan orang-orang shalih terdahulu. Bahkan mereka benar-benar sampai pada tingkatan tawakal yang tertinggi, yaitu seorang hamba yang hanya berharap kepada Allah, menyerahkan urusan dunia dan akhiratnya hanya kepada-Nya, dan hanya bergantung serta bersandar kepada-Nya.
















