Karena itu, ust. Sadam mengharapkan jangan pernah menganggap ringan sebuah dosa, karena api yang besar berasal dari percikan kecil, banjir yang besar berasal dari tetesan yang terus berkumpul. Begitu pula kehancuran masyarakat, ia dimulai dari dosa-dosa yang dianggap biasa.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Namun sebesar apa pun dosa manusia, rahmat Allah lebih luas daripada dosa-dosa itu.
Ada sebuah kisah yang mengajarkan kepada kita tentang luasnya ampunan Allah. Dahulu ada seorang laki-laki yang dikenal sebagai pemabuk, hampir setiap malam ia menghabiskan hidupnya dalam kemaksiatan. Namanya terkenal bukan karena kebaikan, tetapi karena keburukan.
Suatu malam ia berjalan pulang dalam keadaan mabuk, langkahnya sempoyongan, pakaiannya kusut, tubuhnya dipenuhi bau minuman keras, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara adzan.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Malam itu hatinya bergetar, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Ia berhenti, lalu duduk di pinggir jalan dan menangis, air matanya mengalir membasahi wajahnya, sambil menengadah ke langit ia berkata:
“Ya Allah… Aku telah terlalu jauh meninggalkan-Mu, aku telah terlalu banyak berbuat dosa.
Jika malam ini pintu taubat-Mu masih terbuka, maka terimalah aku sebagai hamba-Mu yang kembali.”
Malam itu ia pulang kerumah lalu berwudhu dan melaksanakan shalat, ia menangis dalam sujudnya. Menangis karena menyesal, menangis karena takut kepada Allah, dan menangis karena mengingat umur yang telah habis dalam kemaksiatan.
Dan menjelang Subuh Allah memanggilnya, ia meninggal dunia. Para kerabat dan tetangganya mengenang masa lalunya yang begitu buruk, tetapi Allah melihat taubatnya, Allah melihat air matanya, Allah melihat penyesalannya, Dan Allah Maha Pengampun.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Maka jangan pernah putus asa dari rahmat Allah, tetapi jangan pula menunda taubat, karena kita tidak tahu kapan ajal datang.
Hari ini kita masih duduk di rumah Allah, besok mungkin nama kita diumumkan sebagai jenazah.
Hari ini kita masih mendengar khutbah, besok mungkin orang lain yang membacakan talqin untuk kita.
Hari ini kita masih mampu mengucapkan istighfar, besok mungkin lisan kita telah kaku tak mampu berbicara.
Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)
















