SRAGEN, Bretitategas.com – Pertemuan rutin ibu-ibu PKK Dukuh Gondangmanis RT 3 dilaksanakan pada Minggu (01/11) pukul 13.00 kemarin. Pertemuan yang dihadiri oleh Sapto Haryono selaku ketua RT 03, Elisawati selaku ketua PKK RT 03, dan ibu-ibu anggota PKK RT 03. Pertemuan rutin ini berlangsung di Rumah Ketua RT 03, Dukuh Gondangmanis, Desa Geneng, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Sebagaimana disampaikan kepada awak media pada Senin (02/11/2026).
Dalam sambutannya, Ketua PKK Dukuh Gondangmanis RT 03, Elisawati, menyampaikan akan bahayanya bullying terhadap anak.
“Dalam kesempatan kali ini, saya sampaikan akan bahayanya bullying terhadap anak. Dampak dari bullying ke anak sangat luar biasa, diantaranya anak akan trauma dan rasa tidak nyaman, harga diri hancur, kecemasan, depresi dan lainnya. Contoh kasus yang baru viral adalah pengeroyokan anak sampai meninggal, anak umur 3 tahun dipotong kemaluannya, anak pengidap down syndrome yang dibully anak tetangga baru duduk di kelas 2 Sekolah Dasar ditendang perutnya sampai meninggal, dan masih banyak lagi,” jelas Elisawati.
Sementara itu, Ketua RT 03 Dukuh Gondangmanis, Sapto Haryono yang akrab dipanggil Yono menyampaikan bahwa salah satu pengendali bullying adalah peran aktif dari seorang ibu.
“Ibu adalah Madrasah Pertama, yang di maksud adalah sekolah pertama dan utama tempat anak-anak kita belajar. Sebagaimana bangunan yang kokoh dimulai dari fondasi yang kuat, demikian pula masa depan anak kita dimulai dari pendidikan yang kita berikan sejak dini. Di tangan ibulah karakter anak dibentuk. Di dekat ibulah anak pertama kali belajar mengenal Allah, belajar berbicara sopan, belajar bersabar, dan belajar berbuat baik. Jika madrasah pertamanya baik, insya Allah langkah anak selanjutnya akan lebih lurus,” ungkap Yono.
Ditambahkan oleh Yono bahwa anak itu juga meniru, tidak hanya mendengarkan saja.
“Ada kebenaran yang patut kita renungkan. Anak lebih banyak meniru daripada mendengarkan. Kita bisa berpesan apa saja, tapi yang paling kuat pengaruhnya adalah apa yang kita lakukan sendiri di depan mata mereka. Jika kita menyapa dengan ramah, anak belajar menghormati orang lain. Jika kita sabar saat menghadapi kesulitan, anak belajar tabah. Jika kita bersyukur atas apa yang ada, anak belajar tidak pelit hati. Sebaliknya, apa gunanya kita menyuruh anak shalat tepat waktu, sementara kita sendiri masih santai saat adzan berkumandang? Apa gunanya menyuruh anak berkata baik, sementara kita sendiri masih suka bertengkar atau berkata kasar di rumah? Perkataan adalah panggilan, tetapi perbuatan adalah teladan yang tak terucap,” tambah Yono.
Dari beberapa pernyataan tersebut, peran ibu sangatlah penting. Membimbing anak agar tumbuh menjadi orang yang diridhai Allah.
“Allah SWT telah memperingatkan kita dalam Quran Surat At-Tahrim: 6, ‘Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’. Ayat ini adalah pengingat bagi kita semua. Menjaga keluarga bukan sekadar memberi makan dan pakaian. Yang lebih penting adalah menjaga mereka dengan iman, dengan akhlak, dan dengan kasih sayang yang menuntun ke jalan kebaikan. Tugas kita bukan hanya membesarkan anak agar tumbuh besar, tetapi membimbing mereka agar tumbuh menjadi orang yang diridhai Allah. Itulah tanggung jawab terbesar kita di dunia dan kelak di akhirat,” pungkas Yono.
Pewarta dan Editor:
Widiyo Prakoso
















