Ayat tersebut menegaskan bahwa keluarga kita bukan hanya sekedar tempat untuk pulang, tetapi padanya ada amanah. Amanah bagi kita untuk mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi mereka.
Banyak orang yang tampak baik di luar rumah. Akan tetapi, keluarganya justru tidak mendapatkan kebaikannya tersebut.
Betapa sering seseorang tampak santun di luar, tetapi justru keluarganya yang paling sedikit merasakan kelembutan sikapnya. Di hadapan orang lain ia menjaga lisan sedemikian rupa, tetapi di rumah ia justru sering meninggikan suara.
Betapa banyak mereka yang berusaha terlihat baik di masyarakat, akan tetapi keluarganya di rumah justru merasakan jarak dan sikap yang keras.
Padahal, tolak ukur kebaikan dan kebermanfaatan seseorang itu justru ada pada keluarga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian, adalah yang paling baik (bermanfaat) untuk keluarganya.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kebaikan yang kita berikan kepada keluarga kita tentu tidak cukup hanya dengan harta atau kebaikan materi saja. Akan tetapi, juga kebaikan yang bersifat batin.
Keluarga kita sangat membutuhkan senyuman ramah kita, kasih sayang kita, dan juga sikap baik yang terkadang hanya kita berikan untuk orang selain keluarga kita.
Oleh sebab itu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengingatkan agar seseorang senantiasa mendidik keluarganya dengan adab dan ilmu Beliau mengingatkan agar para orang tua tidak berhenti dengan hanya memberikan manfaat materi saja, tetapi lupa dalam memberikan pendidikan dan teladan yang baik.
Bagaimana dan seberapa banyak manfaat yang bisa kita berikan kepada keluarga, menjadi tolak ukur sejauh mana keimanan kita.
Ketiga: Manusia Bermanfaat bagi masyarakat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Ketiga, Islam menuntut pemeluknya untuk hadir sebagai solusi di tengah masyarakat.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, dalam al-Quran Surat al-Maidah ayat 2,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.”










