Ma’asyiral Muslimin yang dirahmati Allah.
Syaikh Nashir Al-Umar menjelaskan bahwa di dalam Alquran ada berbagai macam bentuk kemenangan. Di antaranya:
Pertama: Berkuasa dan mampu mengalahkan musuh Islam
Ini adalah potret pertama, kemenangan seperti ini Allah anugerahkan kepada Nabi Daud dan Sulaiman. Allah ‘azza wajalla berfirman:
Artinya, “Dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah..”(QS. Al-Baqarah: 251)
Begitu pula Nabi Musa, Allah berikan kemenangan jenis ini. Kemenangan risalah dan kemenangan pengusung risalah. Allah ‘azza wajalla berfirman:
Artinya, “Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah: 50)
Kedua: Allah Binasakan Musuh-Musuh Dakwah
Tidak seperti kondisi di atas yang Allah berikan kekuasaan dan kemenangan nyata atas musuh-musuh Islam, kemenangan jenis ini Allah berikan kepada beberapa Nabi yaitu dengan Allah azab kaumnya. Sebagaimana Nabi Nuh yang Allah timpakan banjir bah kepada kaumnya.
Ada Nabi Luth yang Allah hujani kaumnya dengan batu panas lantaran perilaku homoseks yang mereka lakukan. Sedangkan Nabi Luth diselamatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dari azab tersebut.
Ada kaum Tsamud yang Allah binasakan karena ingkar kepada Nabi Shalih. Mereka kufur dan menyembelih unta terlarang. Maka Allah turunkan kepada mereka guntur keras yang membinasakan mereka.
Ketiga: Kemenangan yang Terlihat Seperti Kekalahan.
Terbunuh, terusir, terzalimi dan terus mendapat intimidasi tampak seperti sebuah kekalahan. Akan tetapi bisa jadi hal-hal tersebut adalah kemenangan.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
Artinya, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali-Imran: 169)
Dan di dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa para mujahid itu menunggu salah satu dari dua kebaikan. Baik itu kemenangan ataupun mati syahid di jalan Allah.
Adalah Ghulam, seorang pemuda yang mendakwahkan tauhid kepada raja dan kaumnya. Dia terbunuh dan orang-orang yang beriman kepadanya juga dimasukkan ke dalam parit-parit api.
Tapi terbunuhnya dia membuat orang-orang yang beriman, meninggalkan ketegasan tauhid.
Sebuah ungkapan yang menarik dari Ibnu Taimiyah rahimahullah,
Artinya, “Sesungguhnya jika aku dipenjara maka itu adalah kholwatku dengan Allah, jia aku diusir maka itu adalah jalan-jalan bagiku dan jika aku terbunuh maka itu adalah kesyahidan.”
Ma’asyiral Muslimin yang dirahmati Allah.
Dengan beberapa potret kemenangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemenangan Islam itu tidak diukur dari capaian-capaian fisik, akan tetapi kemenangan itu diukur dengan kesabaran dalam menapaki manhaj rabbani, tidak terpengaruh oleh godaan-godaan syahwat dan tidak terkotori oleh syubhat yang dapat mengeluarkan kita dari manhaj rabbani.
Kemenangan hakiki yang paling besar adalah masuk surga, yang dicapai melalui iman yang kuat, perjuangan melawan hawa nafsu, dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Pewarta: A. Erolflin
Editor : Firman











