Ma’asyiral Muslimin yang dirahmati Allah.
Suatu hal yang harus kita yakini adalah Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan memenangkan orang-orang beriman, baik di dunia maupun di akhirat.
Allah ‘Aza wa Jalla berfirman:
Artinya, “Sesungguhnya Kami memenangkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Ghafir: 51)
Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah akan menolong dan memenangkan orang-orang beriman, baik di dunia maupun di akhirat. Akan tetapi jika kita melihat perjalanan dakwah para Nabi dan orang-orang yang diceritakan di dalam Alquran, kita mendapati bahwa ada di antara mereka yang dikejar dan dibunuh oleh kaumnya seperti nabi Yahya.
Lantas, seperti apa kita memahami kemenangan dan bantuan di dunia yang Allah janjikan kepada Nabi Yahya? Bukankah ayat di atas bersifat umum kepada seluruh Nabi?
Ada pula Nabi Ibrahim yang harus terusir dari kaumnya karena beliau mendakwahkan tauhid dan menentang kesyirikan yang dilakukan oleh kaumnya. Ada Nabi Nuh yang berdakwah 950 tahun namun hanya sedikit yang beriman kepadanya.
Bisakah kita katakan bahwa dakwah para Nabi di atas tidak mendapatkan kemenangan dalam dakwah dan perjuangannya?. Apakah para nabi tersebut kurang paham tentang kondisi mad’u sehingga tidak bisa menarik kaumnya untuk beriman? Tentunya tidak, karena mereka adalah manusia-manusia yang dibimbing oleh wahyu, manusia-manusia yang dituntun oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Maka di hadapan kita hanya tinggal satu jawaban yang tersisa, yaitu mereka adalah para Nabi yang dimenangkan oleh Allah di dunia dan akhirat.
Pertanyaannya, kenapa mereka dikatakan menang, sedangkan nasib mereka seperti itu? Inilah yang perlu kita pahami, bahwa potret kemenangan dakwah dan perjuangan itu tidak hanya terbatas pada surat Ash-Shaf di atas.
Islam menjadi agama yang unggul dan memimpin dunia, akan tetapi ada potret lain tentangan kemenangan dakwah yang Allah gambarkan di dalam Al-Quran kepada kita.











