Allah Pemberi Cahaya Kepada Langit dan Bumi

JAMBI, Beritategas.com – Cahaya adalah amat penting kerana kita memerlukan cahaya untuk melihat, bukan? Begitulah juga dengan ‘penglihatan dalaman’ kita. Kalau di luar kita memerlukan cahaya untuk melihat maka hati kita juga memerlukan ‘cahaya iman’ untuk melihat alam ini. Hanya apabila ada iman, barulah kita akan faham tentang alam ini. Baru tahu hakikat dunia dan alam ini.

Melalui kajian tafsir di Masjid Baitul Makmur Villa Karya Mandiri, Desa Mendalo, Jaluko Jambi ustadz Umar, Lc mengupas makna yang terkandung dalam Surah An-Nur ayat 34-36, berikut ringkasan nya:

Tafsir surah An-Nur ayat 34-36 menjelaskan tentang ayat-ayat Allah yang berfungsi sebagai petunjuk dan teladan, perumpamaan cahaya Allah yang berlapis-lapis, dan tempat-tempat mulia di mana Allah disebut dan dipuji.

Ayat 34 menekankan fungsi Al-Qur’an untuk menjelaskan kebenaran, memberikan contoh dari umat terdahulu, dan menjadi peringatan bagi orang bertakwa.

Ayat 35 menjelaskan sifat cahaya Allah melalui perumpamaan misykat (lubang di dinding) dengan pelita di dalam kaca yang terbuat dari minyak zaitun berkah, melambangkan cahaya yang berlapis-lapis.

Ayat 36 menyebutkan bahwa cahaya Allah dapat ditemukan di masjid-masjid yang dimuliakan, di mana zikir dan salat dilaksanakan pada pagi dan petang. 

Allah adalah sumber utama cahaya yang memungkinkan kita melihat dunia, seperti matahari, bulan, dan bintang.

Para pembaca Beritategas.com yang Dirahmati Allah, lebih rincinya Tafsir Surah An-Nur Ayat 34. mengandung makna, antara lain:

Ayat-ayat yang memberi penerangan: Allah menurunkan ayat-ayat yang jelas dan rinci untuk membedakan yang benar dan yang salah.

Contoh dari umat terdahulu: Ayat ini memberikan contoh-contoh dari kisah-kisah umat sebelumnya sebagai pelajaran, seperti kisah Nabi Yusuf dan Maryam.

Pelajaran bagi orang bertakwa: Ayat-ayat ini menjadi wejangan bagi orang-orang yang bertakwa, berisi motivasi (targhib) dan peringatan (tarhib) dari Allah.
Orang bertakwa: Mereka adalah orang-orang yang menjauhi larangan Allah, baik yang besar maupun kecil. 

Kemudian Tafsir Surah An-Nur Ayat 35.
Tafsir Surah An-Nur Ayat 35 berbicara mengenai anugerah Allah berupa cahaya baik yang ada di langit maupun bumi. Akibat dari adanya cahaya tersebut segala sesuatu yang ada berjalan sebagaimana mestinya.

Cahaya langit dan bumi: Allah adalah sumber cahaya bagi langit dan bumi.

Perumpamaan misykat: Cahaya Allah diumpamakan seperti misykat (lubang di dinding yang tidak tembus) berisi pelita di dalam kaca (bintang bercahaya).

Minyak zaitun: Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang berkah, yang tumbuh tidak di timur atau barat.

Cahaya di atas cahaya: Minyak zaitun itu sendiri sangat jernih dan hampir menyala tanpa api, sehingga cahayanya sangat kuat. Ketika kaca memantulkan cahaya itu, cahayanya menjadi berlapis-lapis (cahaya di atas cahaya).

Makna perumpamaan: Perumpamaan ini menggambarkan bagaimana keimanan dan petunjuk Allah sangat terang dan berlapis-lapis, serta siapa yang dikehendaki akan diberi hidayah, yang membuat hati mereka bercahaya.

Sedangkan Tafsir Surah An-Nur Ayat 36.
Tempat ibadah yang mulia: Cahaya Allah ditemukan di dalam rumah-rumah Allah (masjid) yang telah diperintahkan untuk dimuliakan.

Zikir dan salat di masjid: Di dalamnya, Allah disebut dan dipuji pada waktu pagi dan petang, yang merujuk pada salat (fardu dan sunah) serta zikir.

Penyebutan nama Allah: Maksudnya adalah untuk mengagungkan dan mengesakan Allah di dalam masjid-masjid tersebut.

Waktu pagi dan petang: Merujuk pada waktu pagi (ghuduwwi) dan sore hari (ashaal). 

Ustadz Umar mengingatkan bahwa Allah adalah pemberi cahaya, karenanya Dia menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi cahaya bagi kehidupan manusia.

Cahaya itu Allah pancarkan di langit dan bumi, seperti disebutkan dalam ayat sebelumnya, baik cahaya material yang kasat mata maupun cahaya immaterial seperti keimanan, pengetahuan, dan lainnya. Allah adalah sumber utama cahaya yang memungkinkan kita melihat dunia, seperti matahari, bulan, dan bintang.

Namun, tidak semua orang dapat meraih cahaya itu. Cahaya itu di rumah-rumah ibadah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya; di sana bertasbih-lah orang-orang yang menyucikan nama-Nya melalui berbagai ibadah, seperti azan, salat, dan tilawah Al-Qur’an, pada waktu pagi dan petang.

Berbahagialah orang yang mendapat pancaran cahaya Ilahi, karena dia telah mempunyai pedoman yang tepat yang tidak akan membawanya kepada hal-hal yang tidak benar dan menyesatkan.

Untuk memperoleh cahaya Ilahi itu seseorang harus benar-benar beriman dan taat kepada perintah Allah serta menjauhi segala perbuatan maksiat. Semoga kita dapat memperoleh cahaya Illahi.

Acara yang dipandu ust. Sadam Husen didampingi Ketua Masjid Amat Djoemadi berjalan dengan sukses, dan kepada jamaah yang hadir juga diberikan kesempatan untuk tanya jawab seputar pokok kajian maupun hal-hal di luar tema.

Pewarta: A. Erolflin
Editor : Firman

Ikuti Berita Kami di :KLIK DI SINI Atau GABUNG DI SINI
banner 300x250banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses