Bekali Kesiapan Hadapi Kegawatdaruratan, Mahasiswa prodi D3 Keperawatan UNIMUS Ikuti Pelatihan BLS Plus Tahun 2026

PELATIHAN MAHASISWA
Mahasiswa prodi D3 Keperawatan UNIMUS Ikuti Pelatihan BLS Plus Tahun 2026. Dok Istimewa

SEMARANG, Beritategas.com – Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) menggelar Pelatihan Basic Life Support (BLS) Plus bagi mahasiswa, Rabu (4/11/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membekali calon perawat dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan sebelum terjun ke pelayanan kesehatan.

Pelatihan dirancang dengan memadukan pembelajaran teori dan praktik. Sejak pagi, mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai sejumlah kompetensi kegawatdaruratan, mulai dari call for help, cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru (RJP), biomekanik trauma, penanganan kegawatdaruratan akibat keracunan, hingga airway and breathing management.

Materi berikutnya mencakup manajemen kegawatdaruratan luka bakar, syok dan manajemen perdarahan, serta fraktur dan pembidaian. Setelah menyelesaikan sesi teori, peserta mengikuti praktik keterampilan yang dibagi menjadi tiga kelompok dengan rotasi pada sejumlah keterampilan kegawatdaruratan.

Ketua Program Studi D3 Keperawatan UNIMUS Semarang, Dr. Ns. Yunie Armiyati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., mengatakan penguasaan keterampilan bantuan hidup dasar merupakan salah satu bekal penting bagi mahasiswa keperawatan sebelum berhadapan langsung dengan situasi klinis.

Calon perawat tidak cukup hanya memahami konsep kegawatdaruratan secara teori. Mereka harus mampu mengenali kondisi yang mengancam nyawa, menentukan tindakan awal secara cepat dan tepat, serta memiliki keterampilan yang terlatih.

“Melalui BLS Plus ini, kami ingin mahasiswa semakin siap ketika nantinya menghadapi situasi kegawatdaruratan di rumah sakit maupun di tengah masyarakat,” ujar Yunie.

Menurut Yunie, pembelajaran berbasis praktik juga penting untuk membangun kesiapan mahasiswa menghadapi lingkungan pelayanan kesehatan yang menuntut ketepatan, kecepatan, kerja sama, dan kemampuan mengambil tindakan sesuai kompetensi.

Ketua Panitia Pelatihan BLS Plus, Akhmad Mustofa, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa esensi kegiatan tersebut bukan sekadar memberikan tambahan pengetahuan, melainkan membangun keterampilan dasar yang wajib dipahami oleh setiap calon perawat.

BLS merupakan keterampilan fundamental yang harus dimiliki mahasiswa keperawatan. Ketika terjadi kegawatdaruratan, tindakan awal yang cepat dan tepat dapat menjadi bagian penting dalam upaya mempertahankan keselamatan pasien.

“Karena itu, mahasiswa perlu dibiasakan tidak hanya memahami apa yang harus dilakukan, tetapi juga mampu melakukannya secara sistematis dan terampil,” kata Mustofa.

Pelaksanaan pelatihan dibagi menjadi sesi teori dan praktik. Sesi praktik berlangsung di laboratorium dengan peserta dibagi menjadi tiga kelompok yang melakukan rotasi keterampilan.

Materi praktik meliputi airway and breathing management, CPR/RJP, serta pengendalian perdarahan, pembidaian, dan transportasi pasien.

Tiga instruktur terlibat dalam sesi praktik tersebut, yakni Akhmad Mustofa, Dr. Ns. Chanif, S.Kep., MNS., dan Ns. Dwi Nur RPS., M.Kep. Setiap kelompok memperoleh kesempatan berlatih pada masing-masing keterampilan sehingga mahasiswa tidak hanya menjadi pengamat, tetapi terlibat langsung dalam simulasi tindakan kegawatdaruratan.

Rangkaian kegiatan juga dilengkapi pre-test pada awal pelatihan dan post-test setelah seluruh rotasi praktik selesai. Evaluasi atau ujian RJP/CPR kelompok dilakukan pada sesi akhir perputaran praktik sebagai bagian dari penilaian penguasaan keterampilan peserta.

Sekretaris Panitia Pelatihan BLS Plus, Dicky Abdillah, S.S., mengatakan seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan baik dan lancar berkat koordinasi antara program studi, panitia, instruktur, dan peserta.

“Alhamdulillah, pelaksanaan pelatihan berjalan dengan baik dan lancar. Antusiasme mahasiswa juga sangat terlihat, terutama ketika memasuki sesi praktik. Kami berharap pengalaman hari ini tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan semata, tetapi menjadi bekal yang benar-benar melekat pada mahasiswa ketika mereka menghadapi kondisi kegawatdaruratan di lingkungan klinik maupun masyarakat,’ ujar Dicky.

Pelatihan berlangsung sejak pagi hingga sore dan ditutup setelah pelaksanaan post-test. Melalui kegiatan tersebut, Prodi D3 Keperawatan UNIMUS berharap mahasiswa memiliki kesiapan yang lebih baik untuk memasuki pembelajaran klinik sekaligus membangun respons profesional ketika menghadapi situasi yang membutuhkan pertolongan segera.

Penguatan keterampilan kegawatdaruratan sejak masa pendidikan dinilai menjadi bagian penting dalam menyiapkan calon perawat yang tidak hanya menguasai pengetahuan akademik, tetapi juga tanggap, terampil, dan mampu menerapkan kompetensinya ketika berhadapan dengan kondisi nyata di pelayanan kesehatan.

banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250
banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *