Padahal Rasulullah telah menegaskan fungsi vital kepemimpinan Islam:
*الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ*
”Imam (Khalifah) itu adalah perisai (pelindung); orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dia. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Tanpa “perisai” ini, umat Islam terpecah menjadi negara-negara lemah yang mudah diintervensi dan dijajah. Palestina yang terus dijajah hingga hari ini menjadi bukti nyata, padahal selama ratusan tahun wilayah itu aman di bawah Khilafah Islam.
Kekosongan kepemimpinan Islam global kemudian diisi oleh Kapitalisme global yang dipimpin Amerika Serikat, sebuah sistem yang terbukti zalim dan gagal.
Kapitalisme berdiri di atas asas sekularisme yang menjadikan kepentingan materi dan kekuasaan sebagai standar utama, melahirkan kezaliman sistemik seperti dukungan terhadap genosida Palestina, agresi militer, sanksi ekonomi, dan intervensi politik global.
Kegagalan ini bahkan diakui para pemikir Barat sendiri: Joseph E. Stiglitz menyatakan globalisasi kapitalistik memperparah kemiskinan dan ketimpangan; Thomas Piketty membuktikan kapitalisme memperlebar jurang kaya–miskin; dan Francis Fukuyama mengakui kegagalan demokrasi liberal dalam menghadirkan keadilan dan stabilitas.
Pengakuan ini menegaskan bahwa Kapitalisme global bukan hanya gagal menurut Islam, tetapi juga gagal menurut ukuran ilmiah mereka sendiri.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,.
Isra’ Mi‘raj tidak hanya mengajarkan kewajiban ibadah personal, tetapi juga menegaskan arah besar perjuangan umat Islam. Islam sebagai ideologi bertolak belakang dengan Kapitalisme yang dibangun di atas keserakahan dan dominasi.
Islam tidak membenarkan penjajahan, perampasan sumber daya, dan pembunuhan massal demi kepentingan ekonomi dan politik.
Dalam Islam, penguasa adalah pelayan umat dan penjaga hukum Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ. Karena itu, kepemimpinan Islam global (Khilafah) bukan sekadar alternatif, melainkan solusi peradaban yang rasional, historis, dan manusiawi karena berbasis wahyu, bukan hawa nafsu.
Inilah sebabnya Islam menjadi ancaman ideologis terbesar bagi Kapitalisme global, sebab ia menawarkan tatanan dunia yang adil, independen, dan bebas dari hegemoni modal serta militer.
Menurut Prof. Dr. Rawwas Qal‘ah Ji, kepemimpinan Islam global mensyaratkan dua hal: diterapkannya Islam secara kaffah dan hadirnya pemimpin yang amanah yang menerapkan hukum Allah secara menyeluruh, sebagaimana firman-Nya,
*يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً*
”Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh” (QS. al-Baqarah [2]: 208).
Oleh karena itu, selain perintah shalat, Isra’ Mi‘raj juga membawa pesan ilahiyah agar umat Islam menegakkan kembali kepemimpinan Islam global. Khilafahlah yang menerapkan syariah secara kaffah dan mampu—sebagaimana dalam sejarah—mewujudkan keadilan sejati serta mengantarkan manusia kepada kesejahteraan dan keridaan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ.










