Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Salah satu pesan inti Isra’ Mi‘raj adalah kewajiban shalat lima waktu, satu-satunya ibadah yang Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ wajibkan secara langsung kepada Rasulullah di Sidratul Muntaha tanpa perantara.
Hal ini menegaskan kedudukan shalat sebagai fondasi pembentukan manusia bertakwa yang layak memikul amanah besar.
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:
*وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ*
”Mintalah kalian pertolongan dengan sabar dan shalat” (QS. al-Baqarah [2]: 45).
Rasulullah menegaskan bahwa shalat adalah amal pertama yang dihisab dan pembeda antara iman dan kufur.
Al-Qur’an juga menegaskan fungsi sosial shalat,
*اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ*
”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. al-‘Ankabût [29]: 45).
Dengan demikian, shalat tidak hanya membentuk kesalehan individual, tetapi juga melahirkan pribadi jujur, amanah, dan adil (sifat-sifat utama kepemimpinan Islam).
Dimensi politik Isra’ Mi‘raj tampak jelas ketika Rasulullah Shalla Allahi wassalam memimpin shalat para nabi di Masjid al-Aqsha, sebuah isyarat ilahiyah tentang kepemimpinan Islam atas seluruh risalah dan umat manusia.
Prof. Dr. Rawwas Qal‘ah Ji menegaskan bahwa imamah Rasulullah atas para nabi merupakan indikasi politik yang sangat kuat tentang kepemimpinan Islam atas seluruh agama dan bangsa setelah beliau diutus sebagai rasul terakhir Isyarat ini terwujud secara konkret setelah hijrah ke Madinah dengan ditegakkannya Negara Islam yang memimpin masyarakat majemuk Muslim dan non-Muslim secara adil, sebagaimana diatur dalam Piagam Madinah (Watsiiqah al-Madiinah).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sejarah Islam mencatat bahwa kepemimpinan global bukan konsep utopis, melainkan realitas yang pernah tegak secara nyata. Setelah wafatnya Rasulullah dan berakhirnya era Negara Islam di Madinah, kepemimpinan Islam berlanjut dalam bentuk institusional melalui Khilafah Islam.
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ’anhu menjadi khalifah pertama, lalu dilanjutkan oleh Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ’anhu Pada masa Umar radhiyallahu ’anhu, Kota al-Quds—yang memiliki keterkaitan langsung dengan peristiwa Isra’ Mi‘raj—dibebaskan tanpa pertumpahan darah, dan kunci kota diserahkan kepadanya oleh Patriark Nasrani dengan penuh kehormatan.
Peristiwa ini diakui oleh sejarawan Muslim dan non-Muslim sebagai teladan kepemimpinan yang adil dan beradab.
Namun, tragedi besar menimpa umat Islam ketika Khilafah diruntuhkan pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M).
Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah menyebutnya sebagai “gempa dahsyat” yang menghancurkan kekuatan politik umat Islam dan membuka pintu penjajahan global.











