Rajab adalah bulan menanam niat taubat dan kesadaran untuk berubah. Sya’ban adalah bulan menyiramnya dengan pembiasaan ibadah dan kesungguhan. Maka Ramadhan datang sebagai puncak perayaan iman, panen raya bagi orang-orang yang telah membiasakan diri beribadah pada bulan-bulan sebelumnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Inilah sebabnya mengapa sebagian orang merasakan Ramadhan begitu ringan dan nikmat, sementara yang lain merasa Ramadhan begitu berat dan melelahkan. Bukan karena Ramadhannya yang berbeda, tetapi karena persiapannya yang tidak sama.
Siapa yang sebelum Ramadhan terbiasa menjaga shalat, maka Ramadhan menguatkan shalatnya. Siapa yang sebelum Ramadhan dekat dengan Al-Qur’an, maka Ramadhan menambah kecintaannya.
Namun siapa yang baru mulai beribadah ketika Ramadhan datang, ia sedang menanam di musim panen, dan itu sangat berat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencontohkan hal ini dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagai bentuk latihan dan penyiraman amal sebelum Ramadhan tiba.
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban.
Ketika ditanya, beliau bersabda:
ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ، بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam.” (HR. An-Nasa’i).
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Maka, apabila pada hari ini kita menyadari bahwa persiapan kita masih kurang, maka janganlah berputus asa. Allah masih memberikan sisa bulan Sya’ban sebagai rahmat dan kesempatan untuk berbenah. Tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada Allah selama nyawa masih bersemayam di dalam raga.
Mari kita manfaatkan sisa bulan Sya’ban ini dengan mempersiapkan diri, melatih ibadah, meluruskan niat, dan membiasakan ketaatan. Sebab bersiap satu hari lebih baik daripada tidak bersiap sama sekali. Dan langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas jauh lebih dicintai Allah daripada niat besar yang tidak pernah diwujudkan.
Allah ﷻ berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ
“Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 133)














