Islam tidak melarang olahraga. Islam tidak mengharamkan sepak bola. Bahkan tubuh yang kuat lebih dicintai Allah daripada tubuh yang lemah. Yang menjadi persoalan adalah ketika hiburan lebih ditaati daripada panggilan Allah.
Coba kita renungkan bersama. Mengapa kita sanggup bangun pukul dua dini hari demi menyaksikan kick-off pertandingan, tetapi terasa sangat berat bangun ketika adzan Subuh berkumandang?
Mengapa jadwal pertandingan begitu mudah kita hafal, tetapi jadwal shalat sering terlupakan?
Mengapa nama para pemain dunia begitu akrab di bibir kita, sementara nama para sahabat Rasulullah terasa asing di telinga kita?
Allah SWT telah mengingatkan:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ»
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang harta dan keluarga, tetapi juga tentang segala sesuatu yang membuat hati kita jauh dari Allah. Hari ini mungkin bukan harta yang melalaikan kita. Bisa jadi justru hiburan. Bisa jadi media sosial. Bisa jadi tontonan… Bahkan pertandingan sepak bola.
Padahal semuanya hanyalah sementara.
Saudaraku, Piala Dunia hanya berlangsung beberapa pekan. Sorak-sorai stadion suatu saat akan sunyi. Tropi akan dipajang di museum. Pemain hebat akan pensiun. Rekor-rekor akan dipecahkan oleh generasi berikutnya. Namun kehidupan akhirat tidak pernah berakhir.
Allah SWT berfirman:
«قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ… أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ… فَتَرَبَّصُوا»
“Apabila segala sesuatu yang kalian cintai lebih kalian utamakan daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah keputusan Allah.” (QS. At-Taubah: 24)
















