Demikian pula dengan kondisi hati. Tanpa latihan, seseorang akan sulit mempertahankan istiqamah saat Ramadhan tiba.
Fenomena masjid yang penuh di awal Ramadhan namun menjadi sepi di pertengahan hingga akhir bulan merupakan akibat dari kurangnya latihan diri.
Mereka yang tadinya semangat menjadi lemah karena selama ini terbiasa memanjakan syahwat dan mengikuti keinginan hawa nafsu.
Seseorang yang tidak melatih diri membaca Al-Qur’an, tidak membiasakan puasa sunnah, dan abai terhadap amal shalih lainnya akan kelelahan di tengah jalan, ibarat pelari jarak jauh yang menghabiskan seluruh tenaganya di kilometer pertama sehingga gagal mencapai garis finis.
Menurut ust Sadam, para salafush shalih melatih diri di bulan Sya’ban dengan berbagai macam amalan. Mereka mulai intensif membaca Al-Qur’an, menghidupkan malam dengan shalat tahajud, dan membiasakan puasa sunnah. Inilah cara menghadapi bulan Ramadhan dengan kesiapan penuh.
Tanpa latihan jiwa hati akan merasa tidak betah dengan ibadah puasa dan shalat tarawih. Akibatnya, pada akhir Ramadhan, banyak orang justru meramaikan pusat perbelanjaan dan merasa ingin segera meninggalkan bulan suci Ramadhan.
Banyak kaum muslimin yang waktunya habis untuk hal sia-sia atau bahkan tidak berpuasa karena hatinya merasa ibadah adalah beban yang membosankan. Hal ini terjadi karena mereka selalu mengikuti hawa nafsu dan terbiasa berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Kelezatan ibadah tidak akan pernah bersatu dengan kenikmatan syahwat dalam satu hati.
Apabila seseorang lebih menyukai kenikmatan syahwat, ia tidak akan pernah merasakan manisnya iman. Sebaliknya, ketika seseorang merasakan nikmatnya ibadah, ia akan menjauhi kenikmatan syahwat yang melalaikan hati dari Allah ‘Subhanahu wa Ta’ala.
Persiapan diri harus segera dilakukan menuju sebuah momentum yang sangat agung,yaitu bulan Ramadhan. Pada bulan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerdekakan hamba-hamba-Nya dari api neraka.
“Setiap mukmin tentu mengharapkan pembebasan dari api neraka, namun pencapaiannya bukanlah perkara yang mudah,” tutur ust. Sadam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda:
“Dan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka, dan hal itu terjadi pada setiap malam (di bulan Ramadhan).” (HR. Tirmidzi).
Meraih kemuliaan tersebut membutuhkan semangat, kekuatan, serta kecintaan yang tulus terhadap ibadah itu sendiri. Hal ini mengingatkan pada peristiwa besar ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hendak menjalani Isra Mi’raj.
Sebelum bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dada beliau dibelah, jantung beliau dikeluarkan, dan dibersihkan dari segala kotoran.














