JAMBI, Beritategas.com – Universitas Jambi (UNJA) secara resmi mengangkat Prof. Dr. Meri Yarni, S.H., M.Hum., sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Hukum Tata Negara. Pengangkatan ini berlangsung di Balairung Kampus Pinang Masak UNJA Mendalo, pada Senin (9/02/2026), lalu.
Prof. Meri Yarni lahir di Nagari Selayo, Kab. Solok, Sumatera Barat, pada 28 Mei 1965. Ia merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara, buah hati dari Syofian Datuk Mudo dan Chamisah.
Prof. Meri Yarni menceritakan bahwa keluarganya bukan berasal dari latar belakang ekonomi yang berlebih. Sejak kecil, ia sering membantu orang tuanya bertani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Dulu kondisi ekonomi keluarga saya sangat sederhana. Ayah saya merupakan PNS golongan II yang harus pensiun muda karena ada konflik politik pada masa itu. Karena kami hanya mengandalkan penghasilan dari ayah, orang tua saya kemudian beralih profesi menjadi petani untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Awalnya, Prof. Meri Yarni bercita-cita menjadi dokter. Namun, setelah gagal dalam seleksi dua kali, ia pun beralih mengikuti saran ayahnya untuk masuk jurusan Ilmu Hukum di Universitas Bung Hatta, Padang.
“Mimpi saya awalnya menjadi dokter, saya suka melihat dokter menangani pasien di kampung. Sayangnya, saya tidak lulus seleksi dua kali. Akhirnya ayah saya menyarankan masuk ke Universitas Bung Hatta jurusan Ilmu Hukum. Katanya, belajar Ilmu Hukum agar tahu kejanggalan hukum di negara kita,” ungkapnya.
Perjalanan pendidikannya tidak mudah. Menempuh jenjang S3 di usia tidak muda menjadi tantangan tersendiri, terlebih ketika ia harus menghadapi berbagai peristiwa berat, termasuk meninggalnya pembimbing S3 saat pandemi COVID-19 dan kehilangan dua kakak secara berdekatan.
“Jenjang S3 ini memakan waktu cukup lama. Pada saat itu anak saya bercita-cita menjadi dokter, sehingga saya mengalah untuk mendukung mimpi anak saya. Barulah pada tahun 2018 saya berkesempatan melanjutkan S3. Pada semester 3 saya sudah melakukan seminar proposal, namun pembimbing saya meninggal saat pandemi COVID-19 sehingga proses bimbingan terhenti dan penyelesaian studi tertunda. Saya juga merawat kakak saya yang sakit di Jakarta, hingga pada tahun 2021 dua kakak saya meninggal dalam waktu berdekatan. Dari semua itu, saya akhirnya menyelesaikan S3 pada semester 10 dengan IPK 4,00,” ujarnya.
Prof. Meri Yarni menekankan bahwa keberhasilannya tak lepas dari doa, usaha, dan bantuan banyak pihak. Ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Rektor, Dekan, para pembimbing, dan keluarga yang telah mendukung perjalanan akademiknya.
“Pertama-tama saya sangat berterima kasih kepada Rektor saat itu, yaitu Ir. S.B. Samad, yang mengizinkan saya mengikuti ujian dosen. Kala itu, Biro Akademik dan Umum menolak saya karena saya berasal dari kampus swasta, padahal pada waktu itu perguruan tinggi swasta juga dapat mengikuti ujian negara. Dengan tekad, saya mendatangi langsung Pak Rektor dan menyampaikan keluhan saya, akhirnya Rektor memberikan disposisi dan mengizinkan saya mengikuti ujian. Saya juga berterima kasih kepada kakak angkat saya yang merawat saya selama di Jambi. Kepada Dekan saat itu, saya sangat berterima kasih karena telah menerima saya. Kepada Prof. Aulia Tasman, saya berterima kasih karena beliau mengamanahkan saya menjadi ketua Ekstensi selama delapan tahun. Dan terakhir, kepada Prof. Helmi saya berterima kasih karena memberi kesempatan kepada saya menjadi guru besar,” jelasnya.
Dorongan yang sangat berarti datang dari Dr. H. Mohammad Ihsan, S.E., M.Si sang suami dan juga dari keluarga tentunya.
“Cita-cita saya yang tidak kesampaian menjadi dokter, alhamdulillah dapat diemban oleh anak sulung saya,” ujarnya.
Prof. Meri Yarni juga berpesan agar dosen dan mahasiswa yang sedang berjuang untuk terus semangat dan tidak menyerah dalam mengejar pendidikan tinggi.
“Kepada dosen-dosen muda, saya berharap mereka terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang S3. Untuk mahasiswa, berjuanglah terus untuk menggapai cita-cita,” pesannya.
Perjalanan Prof. Meri Yarni istri Dr. H. Mohammad Ihsan, S.E., M.Si yang juga dosen di UNJAmembuktikan bahwa latar belakang ekonomi maupun usia bukan penghalang mutlak untuk meraih prestasi. Dengan doa, kerja keras, dan dukungan dari banyak pihak, ia berhasil meraih gelar yang menginspirasi. Kisah ini menjadi pengingat bagi seluruh sivitas akademika dan mahasiswa UNJA untuk terus menuntut ilmu, tak gentar oleh keterbatasan, dan yakin bahwa ketekunanlah yang menentukan kesuksesan.
Kunjungi: www.unja.ac.id
Pewarta : A.Erolflin
Editor : Firman













